10 Juli, 2009

Antara Amsterdam dan Nijmegen

Stasiun kereta kota Nijmegen, Belanda. Foto oleh Sonny.


Hujan baru saja berhenti. Di bawah langit Belanda yang gelap, kereta api melaju meninggalkan Amsterdam menuju Nijmegen.

Saya naik kereta itu dari Amsterdam Bijlmer Arena. Sebuah stasiun yang bersih dan modern. Di samping stasiun ini, berdiri stadion sepakbola dan tempat klub FC Ajax Amsterdam. Di stasiun itu, sambil tunggu kereta tiba, saya bertanya pada seorang seorang perempuan separuh baya yang duduk di samping kanan saya. Ia menunggu kereta yang sama. Hari sudah menjelang sore.

“Kalau ke Nijmegen, apakah lebih lekas dengan kereta yang lewat Arnhem atau Eindhoven?“ tanya saya. Nijmegen, kota tertua di Belanda, terletak di timur negeri itu, di dekat perbatasan dengan Jerman.

“Sudah, kamu tunggu di jalur ini saja,“ jawabnya. “Kereta langsung ke Nijmegen segera tiba.“

Ia sendiri bakal turun lebih dulu di stasiun Arnhem, sekitar 15 km sebelum Nijmegen. Sementara saya masih melanjutkan perjalanan dan pindah kereta menuju Wijchen, kota kecil yang tenang di barat daya Nijmegen, tempat seorang sahabat karib saya menetap.

Perempuan itu seorang guru. Dan sepanjang perjalanan, kami berbagi cerita. Ia cerita beragam hal. Ia misalnya cerita tentang anak perempuannya yang gemar menyantap wortel. Anak itu pasti cantik, secantik ibunya, pikir saya.

Ia juga curhat kegundahannya terkait kebangkitan politik kanan di Belanda. Secara khusus, ia cerita tentang murid-muridnya yang asli Belanda. Menurutnya, sebagian mereka mulai tidak mudah berinteraksi dengan sebaya yang bukan-Belanda. Kami lalu membandingkan cerita yang menarik ini dengan pengalaman integrasi di Jerman.

“Saya mencontreng Partai Hijau,“ katanya sambil tersenyum. Gigi putihnya yang berbaris rapi tampak dibalik senyum.

Saya membalas senyumnya.

Ia kemudian menunjuk ke luar kaca kereta. Rupanya ada pelangi muncul di kolong gumpalan awan yang pekat. Pelangi itu mirip kaki meja warna-warni yang menopang meja yang dicat gelap. Kontras dan cantik sekali.

Vegetasi dan lanskap di kiri kanan rel yang dilintasi kereta ia jelaskan dengan penuh semangat. Tak lupa pula ia cerita tentang dua sungai - Nederrijn dan Waal - yang dengan unik secara pararel memisahkan kota Arnhem dan Nijmegen.

Kereta api melambatkan laju. Pertanda tak seberapa lama lagi kami tiba di stasiun Arnhem. Ia mengenakan jaket. Dari ransel, saya rogoh buku yang saya baca beberapa hari lalu sepanjang perjalanan dari Leipzig menuju Den Haag. A fish caught in time, karya Samantha Weinberg. Ia perhatikan sampul buku ini dengan saksama. Saya bilang, specimen paling mutakhir Coelacanth, ikan purba itu, ditemukan di perairan dekat Manado, kampung halaman saya. Ia menatap saya dengan takjub.

Kereta berhenti. Penumpang bergegas keluar. Ibu guru itu hilang ditelan kerumunan orang.***

- Kereta api Amsterdam-Nijmegen, 7 Juli 2009.












Menangkap ikan di Danau Tondano, Sulawesi Utara (Foto: S Mumbunan).

Baca juga

Salah kaprah "Ekonomi pasar sosial"?

Elite muda Jakarta bikin ikrar. Mereka mengibarkan ekonomi pasar sosial dan sosial-demokrasi. Adakah yang keliru dengan konsep kaum muda itu?

Membongkar korupsi di utara Minahasa

Bupati Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, menuntut warganya sendiri milyaran Rupiah. Mengapa anak-anak muda setempat melawan Bupatinya? Apa kaitannya dengan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur?


Posting terbaru

.

Komentar