22 Februari, 2011

Pindah ke Sonny Archive

Sekarang saya pindah ke blog baru:

Silakan berkunjung atau mampir.

Tabik!

17 Oktober, 2009

Lanskap Ekonomi Baru Kaum Muda

M. Yudhie Haryono
Direktur Eksekutif Nusantara Centre
Salah Seorang Pengikrar Saatnya Kaum Muda Memimpin

Sonny Mumbunan, Rabu/21/11/2007 menulis artikel menarik berjudul ”Ekonomi Pasar Sosial” yang sangat jernih tentang kritiknya pada gagasan ekonomi politik kaum muda.
Setelah ikrar kaum muda dibacakan pada 28 Oktober kemarin, dunia media kita memang diguncangkan oleh wacana besar ini. Sebuah wacana yang kemudian dipergulirkan dengan dua buah pertanyaan penting. Pertama, lanskap politik seperti apa yang akan digunakan oleh kaum muda. Kedua, lanskap ekonomi ”apa” yang diusung kaum muda.

Tentu ini sesuatu yang menarik. Setidaknya karena kaum muda mengikrarkan tantangan dengan kalimat ”saatnya yang muda, progresif, dan kerakyatan memimpin.” Tetapi menurut Sonny, kereta baru milik kaum muda itu bakal mogok. Sebab bahan bakarnya keliru pada aras konsep. Dalam usulan tata ekonomi-politik masyarakat baru, kaum muda mengajukan sosial-demokrasi (sosdem) dan ekonomi pasar sosial (epasos) dalam satu tarikan napas. Selanjutnya, Sonny menuduh lanskap ekonomi kaum muda hanya karbon kopi, sedang lanskap politiknya tak memiliki partai.

Adakah sesederhana itu masalahnya? Tentu saja tidak sebab, kami juga bukan anti buku dan anti riset. Selebihnya dengan buku dan riset tersebut kami yakin bahwa kereta sejarah memang hanya berhenti sebentar di stasiun bernama kapitalisme dan komunisme. Keduanya akan mengalami revisi yang berulang sebagaimana hukum besi sejarah.

Betul bahwa yang kita kagumi dari kapitalisme adalah kemampuan dirinya untuk beradaptasi dengan iklim manapun. Kapitalisme tidak mendedahkan utopia, ia bersedia untuk dikritik. Kritikan tajam dari kalangan Marxian dan anak pinaknya itu justru membuat kapitalisme makin kuat. Itu artinya, kapitalisme tidak akan jadi purba. Ia merevisi diri sebagaimana juga paham yang lain. Dus, ekonomi politik kaum kapitalis, sebagaimana kaum komunis hanya akan berhenti ”sebentar” untuk berjalan kembali.

Yang ada kemudian adalah ”penyempurnaan.” Karena itu kaum muda sadar dan merasa terpanggil untuk melengkapi gerakan cinta tanah airnya secara lebih lengkap bukan hanya dengan ”anti” kapitalisme dan komunisisme. Mereka bergerak dan berikrar karena kesadaran sejarah dan panggilan suci dari pengetahuan yang dimiliki. Dus, dengan pertemuan dan ikrar yang meluas, kesadaran kebangkitan bangsa terasa dipanggul kembali oleh mereka. Kaum muda merasa wajib menghadirkan reformasi politik dan ekonomi sebagai jawaban atas kelambanan pemerintah dalam menyelesaikan problem rakyat banyak. Jika 1908, 1945, 1966, 1974, 1998 dan 2002 kaum muda lebih tajam pada tuntutan politik, gerakan kaum muda tahun ini mulai mewacanakan ”reformasi ekonomi.”

Kesadaran ini menguat karena mereka merasa ada yang kurang dari gerakan kaum muda yang telah berlangsung. Menyadari akan ”absennya” gagasan reformasi ekonomi pada tiap angkatan, kaum muda mengingat salah satu wawancara serius yang dilakukan Indonesianis terkemuka Benedict ROG Anderson di salah satu media terkemuka pada 15/8/07. Anderson mengungkapkan bahwa, “yang menghancurkan politik-ekonomi liberal bukanlah masyarakat luas, tetapi ambisi dan kerakusan kuasa dari tentara [TNI], Bung Karno dan sebagian elit politik lainnya.”

Hal ini karena tentara dan Bung Karno tidak melihat demokrasi sebagai tantangan dan peluang, sebaliknya sebagai ancaman yang menakutkan kekuasaan mereka. Demokrasi menjadi musuh yang menghambat dan menakut-nakuti kekuasaan mereka. Dengan ketakutan yang berlebihan pada demokrasi, gagasan reformasi ekonomi yang bertujuan ”mensejahterakan rakyat banyak” menjadi terbengkalai bahkan tenggelam. Satu peristiwa yang selanjutnya membuat presiden Soeharto merusaknya dengan mengharamkan demokrasi dan menggantinya dengan ekonomi [neolib] sebagai panglima. Persoalannya, presiden Soeharto yang menyadari kebutuhan ekonomi riil bagi terciptanya stabilitas ekonomi agar melahirkan kesejahteraan, ternyata juga ”gagal total.” Hal ini karena menurut kaum muda, presiden Soeharto lebih beriman pada ekonomi pasar yang dihidupi dari ”hutang-piutang,” pro-pertumbuhan dan tidak berbasis pada ekonomi riil, ekonomi kerakyatan.

Hari ini, kaum muda menyadari sepenuhnya bahwa kata Indonesia berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu Indos yang berarti "India" dan nesos yang berarti "pulau." Jadi, kata Indonesia berarti kepulauan India, atau kepulauan yang berada di wilayah India. Tetapi, karena nama yang “impor” inilah, [almarhum] Umar Kayam menyebut Indonesia sebagai bangsa “salah kedaden” disebabkan tidak memiliki cita-cita dan praktek riil untuk merdeka secara ekonomi. Yang ada hanya kesadaran dan praktek merdeka secara politik, belum secara ekonomi.

Walaupun begitu, Indonesia adalah negara yang sangat kaya [terlengkap di dunia] SDAnya. Memiliki hutan terluas di dunia [121 juta hektar] dan terkaya ketiga setelah Brasil dan Konggo dalam mega biodiversity. Selanjutnya kita memiliki jumlah pulau 17.504 pulau [sampai 2004] tetapi belum seluruhnya diverifikasi dan diberi nama berdasarkan definisi pulau. Jumlah penghuninya adalah 211.000.598 yang menurut perhitungan nanti pada tahun 2015 diperkirakan mencapai 250 juta jiwa dan tahun 2050 bisa mencapai 290 juta. Sayangnya, secara sosiologis kita dapat menyebut Indonesia sebagai “bangsa kaya” yang “miskin” karena hidup kekurangan sehingga hutang tiap tahun. Proyek hutang-piutang inilah awal mula penjajahan baru secara sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Tragisnya, presiden dan pemerintahan selanjutnya ternyata mengulangi jalan yang sama, perilaku yang tidak berbeda dan paradigma yang tidak berubah; jalan hutang piutang, perilaku pasar bebas dan paradigma bukan ekonomi kerakyatan yang pro kaum miskin. Karena hal tersebut di atas dan mengingat prestasi kesejahteraan rakat yang tak kunjung datang maka kaum muda kemudian merumuskan ulang lanskap ekonomi baru yang lebih riil dan tegas dengan tujuan dan cara mencapainya secara brilian demi rakyat miskin.

Dengan demikian jika dilihat dan diamati pernyataan dan brosur serta tulisan yang beredar, kaum muda menyepakati bahwa kepemimpinan nasional perlu disegarkan. Tetapi tidak sekedar penyegaran orang dan subyek, melainkan juga gagasan dan visi. Dus, gagasan mereka sangat jelas, merebut kepemimpinan yang akan menyelenggarakan empat hal penting; Pertama, perubahan paradigma pembangunan yang mengutamakan pemerataan, bukan pertumbuhan [politik undang-undang]. Kedua, nasionalisasi asset strategis dan SDA untuk kemakmuran rakyat [politik kesejahteraan]. Ketiga, hapus hutang lama dan tolak hutang baru [politik kemandirian]. Keempat, proteksi produksi dalam negeri [politik kemodernan]. Keempatnya dapat disederhanakan menjadi rekonstitusi sebagai penerjemahan bagi masa depan bangsa. Dan, hanya kaum muda [ide dan umur] yang mampu melaksanakan ide ini.

Empat visi di atas dikedepankan karena bagi kaum muda, problem yang lain hanya turunan dari empat babon problem bangsa kita. Itu artinya, siapapun presidennya nanti akan berhadapan dengan empat problem besar yang jika diselesaikan maka separo lebih persoalan bangsa kita akan teratasi.

Karena itu, gagasan ekonomi baru yang dibawa kaum muda ini memberikan pembobotan serius agar gerakan dan gagasan kaum muda memimpin bukan angin lalu yang “kosong” tanpa isi dan misi yang jelas. Dengan kesadaran sejarah dan kajian sosiologis, riset lapangan dan perpustakaan, gerakan kaum muda ingin mengatakan bahwa “rizki, kemakmuran, kemartabatan, kecerdasan, kemerdekaan dan kemodernan” bukan hanya mukjizat dari langit. Mereka merupakan produk sejarah yang harus direbut dan dibagikan. Tanpa itu, kita tak akan jadi mutiara yang dahsyat. Tak akan jadi negara yang disegani. Inilah laskap ekonomi baru kaum muda dalam menjalankan dan menunaikan politik keindonesiaan dalam bingkai kerakyatan dan kebinekaan.[]


Catatan
: Tulisan M. Yudhie Haryono ini merupakan tanggapan atas tulisan saya
Ekonomi Pasar Sosial?, diterbitkan Kompas (21/11/2007), yang memberikan kritik atas konsepsi ekonomi (Ekonomi Pasar Sosial - Epasos) dan konsepsi politik (Sosial Demokrasi - Sosdem) dari gerakan kaum muda di Indonesia.

09 Oktober, 2009

Melawan Sosialisme dengan sebatang lilin

Demonstrasi warga kota Leipzig pada Musim Gugur 1989, di jalan Leipziger Ring. Foto oleh Gerhard Gäbler.


Sosialisme pernah
coba dipraktekkan di Jerman Timur. Masyarakat negeri itu dikelola sedemikian rupa, baik secara ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan. Sebut saja pendidikan yang dibikin gratis sampai universitas, dan berkualitas. Layanan kesehatan dibuat masal dan ditata apik. Setiap warga negara juga dijamin perumahan yang layak sebagaimana mereka yang usia kerja dijamin mendapat pekerjaan. Angka keikutsertaan perempuan dalam berbagai bidang bahkan melampaui partisipasi kamerad lelaki mereka. Di antero kota tersedia taman bermain. Dan sistem taman kanak-kanak negeri ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Tidak ada alasan rasanya untuk merasa kurang puas. Tetapi mengapa warga negeri itu melawan?

Seperti Indonesia era Orde Baru yang punya Partai Golkar, Jerman Timur punya partai yang selalu menang, Partai Persatuan Sosialis Jerman (SED). Kalau di tanah air, mengkritik rejim Orde Baru dicap komunis atau anti-Pancasila, di sana dicap borjuis atau anti-Revolusi. Indonesia punya Koramil di kecamatan, Jerman Timur punya mata-mata di mana-mana. Karl Marx bakal geleng-geleng kepala – atau membelai-belai jenggot, mungkin – seakan tak percaya bahwa penjara-penjara politik kedua negeri ini dipenuhi kaum borjuis dan kaum komunis.

Di luar itu, berbekal usul dan bantuan Uni Sovyet, Jerman Timur menggenjot pertumbuhan ekonomi sambil menghancurkan lingkungan hidup. Agak mirip dengan di Indonesia, yang berbekal usul dan bantuan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi digenjot sambil menghancurkan hutan tropis dan laut.

Selebihnya, jikalau orang Indonesia dilarang Suharto belajar ke negara-negara sosialis, orang Jerman Timur dilarang Honecker bepergian ke negara-negara kapitalis. Pelesir ke luar negeri hanya berlaku contohnya ke Eropah Timur.

Singkat cerita, di Jerman Timur hak-hak yang satu dijunjung sementara hak-hak lain diabaikan, seperti partisipasi warga.

Antara lain lantaran itulah Leipzig, 20 tahun lalu, menjadi kota yang khas dalam khasanah sejarah dunia. Kota penting di timur Jerman ini jadi saksi dari sebuah revolusi damai. Menurut para pakar, ini satu-satunya revolusi damai di dunia.

Barangkali karena revolusi itu dimulai dengan sebatang lilin.

Orang dilarang berkumpul di Jerman Timur, kecuali untuk tujuan yang tidak politis. Tamasya bersama di pantai bisa, tapi diskusi atau demonstrasi anti-rejim, misalnya, adalah ilegal. Ibadah di gereja juga diperbolehkan.

Satu dua orang lantas menjadikan gereja sebagai tempat berkumpul. Seperti halnya gereja Nikolai di jantung kota Leipzig. Setiap Senin, mereka berdoa di sana. Sekitar Maret 1988, sejumlah kecil ini ibarat melawan dunia. Namun sedikit demi sedikit, dari Senin yang satu ke Senin yang lain, jumlah orang datang dan berdoa terus bertambah. Dianggap kontra-revolusi, rejim mulai memata-matai gereja Nikolai. Semakin lama, makin banyak orang berkumpul. Rejim menangkapi sebagian mereka, tetapi orang tetap berkumpul. Rejim bahkan menyusupkan agen, sampai 600 orang, ke dalam gereja yang berkapasitas 2000 tempat duduk itu.

Seiring waktu, orang mulai berkumpul di luar gereja. Mereka berdoa dan menyalakan lilin. Ini adalah provokasi! Begitu pikir para milisi bentukan rejim. Bila tetap berdemonstrasi, mereka harus digebuk, kalau perlu dengan senjata, tulis komandan milisi di Leipziger Volkszeitung, koran kota Leipzig. Statemen macam ini mengingatkan kita pada pernyataan para petinggi militer dan komandan milisi di Indonesia, saat peristiwa 27 Juli, 1996.

Tapi orang tetap berkumpul, dalam jumlah yang semakin banyak.

Senin, 9 Oktober 1989, rejim mengerahkan sekitar 3000 polisi untuk membubarkan kumpulan orang yang sudah membesar itu. 1500 anggota milisi Tentara Rakyat Nasional (NVA) yang bersenjata, bersiap-siap di pusat kota, menunggu perintah. Gas air mata, mobil penyemprot air, truk penghalau demonstran, semuanya disiagakan di sekitar stasiun kota. Perang sipil seperti mau pecah di kota Leipzig.

Tetapi orang terus saja berdatangan.

Pada Senin itu, apa yang mulanya hanya sekumpulan kecil orang, kini berubah menjadi sekitar 100.000 orang. Mereka menyalakan lilin dan melakukan rally, keluar dari kompleks gereja dan berjalan mengelilingi kota Leipzig.

Seruan “Keine Gewalt!”, tanpa kekerasan!, bergema di kerumunan massa.

Angin bertiup agak kencang di bulan Oktober. Saat musim gugur. Saat dingin mulai menusuk tulang dan orang merapatkan jaket. Barangsiapa memegang sebatang lilin, tangan yang lain harus menutupi cahaya lilin agar tak padam ditiup angin. Karena lilin yang menyala butuh dua tangan, tak ada lagi tangan yang tersisa untuk menggenggam batu.

Di hadapan puluhan ribu orang yang memegang lilin, ribuan aparat rejim yang bersenjata seperti tak berdaya. Slogan “Wir sind das Volk,” Kamilah Rakyat, bergemuruh di tengah kerumunan orang di bulan Oktober 1989, di ruas-ruas jalan di negeri buruh-tani itu.

Demonstrasi di Leipzig menyulut aksi-aksi massa yang lain di seluruh negeri, termasuk Berlin, sampai negeri Jerman bersatu kembali. Tembok Berlin tidak runtuh karena demonstrasi di Berlin.

Demikianlah. Kota Leipzig pada akhirnya jadi dikenal bukan saja karena Bach, Leibniz, Goethe, Luther atau Nietzsche. Tapi juga karena demonstrasi saban Senin itu, karena Montagsdemo.

Di sini sejarah barangkali bukanlah sebuah mobil mogok, yang bergerak lalu mandek. Seperti ditengarai pimpinan partai sosialis di Jerman Timur atau Francis Fukuyama, penulis The End of History. Dan kemanusiaan mungkin lebih mirip sebuah sungai. Sungai yang terus mengalir mencari muara.

Saya acapkali menjumpai beberapa orang menyalakan lilin di dinding, di pintu, di halaman, atau di dalam gereja Nikolai. Sejumlah kecil orang juga kembali melakukan unjuk rasa setiap hari Senin, berdoa dan menyulut lilin di gereja.

Sebagian mereka adalah warga gereja dan aktivis anti-perang. Sebagian yang lain anggota serikat buruh dan pegiat lingkungan. 20 tahun lalu, tak sedikit dari mereka turut mengorganisir dan berdemonstrasi menggulingkan Sozialismus. Saya tanya, kenapa mereka sekarang melakukan itu. Mengapa menyalakan lilin kembali? Mereka kini melawan apa yang diyakini sebagai Neoliberalismus.

Sejarah bukan sebuah mobil mogok. Dan kemanusiaan adalah sungai yang mengalir. ***

- Leipzig, 9 Oktober 2009.

10 Juli, 2009

Antara Amsterdam dan Nijmegen

Stasiun kereta kota Nijmegen, Belanda. Foto oleh Sonny.


Hujan baru saja berhenti. Di bawah langit Belanda yang gelap, kereta api melaju meninggalkan Amsterdam menuju Nijmegen.

Saya naik kereta itu dari Amsterdam Bijlmer Arena. Sebuah stasiun yang bersih dan modern. Di samping stasiun ini, berdiri stadion sepakbola dan tempat klub FC Ajax Amsterdam. Di stasiun itu, sambil tunggu kereta tiba, saya bertanya pada seorang seorang perempuan separuh baya yang duduk di samping kanan saya. Ia menunggu kereta yang sama. Hari sudah menjelang sore.

“Kalau ke Nijmegen, apakah lebih lekas dengan kereta yang lewat Arnhem atau Eindhoven?“ tanya saya. Nijmegen, kota tertua di Belanda, terletak di timur negeri itu, di dekat perbatasan dengan Jerman.

“Sudah, kamu tunggu di jalur ini saja,“ jawabnya. “Kereta langsung ke Nijmegen segera tiba.“

Ia sendiri bakal turun lebih dulu di stasiun Arnhem, sekitar 15 km sebelum Nijmegen. Sementara saya masih melanjutkan perjalanan dan pindah kereta menuju Wijchen, kota kecil yang tenang di barat daya Nijmegen, tempat seorang sahabat karib saya menetap.

Perempuan itu seorang guru. Dan sepanjang perjalanan, kami berbagi cerita. Ia cerita beragam hal. Ia misalnya cerita tentang anak perempuannya yang gemar menyantap wortel. Anak itu pasti cantik, secantik ibunya, pikir saya.

Ia juga curhat kegundahannya terkait kebangkitan politik kanan di Belanda. Secara khusus, ia cerita tentang murid-muridnya yang asli Belanda. Menurutnya, sebagian mereka mulai tidak mudah berinteraksi dengan sebaya yang bukan-Belanda. Kami lalu membandingkan cerita yang menarik ini dengan pengalaman integrasi di Jerman.

“Saya mencontreng Partai Hijau,“ katanya sambil tersenyum. Gigi putihnya yang berbaris rapi tampak dibalik senyum.

Saya membalas senyumnya.

Ia kemudian menunjuk ke luar kaca kereta. Rupanya ada pelangi muncul di kolong gumpalan awan yang pekat. Pelangi itu mirip kaki meja warna-warni yang menopang meja yang dicat gelap. Kontras dan cantik sekali.

Vegetasi dan lanskap di kiri kanan rel yang dilintasi kereta ia jelaskan dengan penuh semangat. Tak lupa pula ia cerita tentang dua sungai - Nederrijn dan Waal - yang dengan unik secara pararel memisahkan kota Arnhem dan Nijmegen.

Kereta api melambatkan laju. Pertanda tak seberapa lama lagi kami tiba di stasiun Arnhem. Ia mengenakan jaket. Dari ransel, saya rogoh buku yang saya baca beberapa hari lalu sepanjang perjalanan dari Leipzig menuju Den Haag. A fish caught in time, karya Samantha Weinberg. Ia perhatikan sampul buku ini dengan saksama. Saya bilang, specimen paling mutakhir Coelacanth, ikan purba itu, ditemukan di perairan dekat Manado, kampung halaman saya. Ia menatap saya dengan takjub.

Kereta berhenti. Penumpang bergegas keluar. Ibu guru itu hilang ditelan kerumunan orang.***

- Kereta api Amsterdam-Nijmegen, 7 Juli 2009.

09 Juni, 2009

Kalau saja Martin Luther punya Facebook

Meja tempat Luther menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru, di kastil Wartburg, Jerman. Foto oleh Sonny.


Kabut menutupi bukit saat kami tiba di Wartburg. Hujan turun rintik-rintik. Dan angin bertiup sedikit kencang di musim panas yang basah.

Wartburg adalah sebuah kastil tua. Dibangun tahun 1080 oleh Ludwig der Springer, letaknya di Eisenach, di Jerman bagian tengah. Kastil Wartburg tegak di puncak bukit dan dikelilingi hutan Thuringia. Wartburg berdiri di atas lanskap yang menawan. Melihat kastil ini rasanya seperti dalam film saja. Wartburg sendiri berarti “tunggu (gunung), semestinya kau jadi kastilku“. Kalimat ini meluncur dari mulut Ludwig yang terpukau dengan lanskap itu. Dalam bahasa Jerman, “tunggu“ dan “kastil“ adalah “warten“ dan “burg“.

Sejak tahun 1999, Wartburg jadi World Heritage oleh UNESCO, badan PBB yang mengurusi kebudayaan, sains, dan kultur.

Saya mengunjungi Wartburg bersama empat orang sahabat. Fadjar, antropolog LIPI, bersama istrinya, Savitri, seorang peminat sejarah dan kultur; Derry, mahasiswa kedokteran di Universitas Halle-Wittenberg, dan Farid, dosen filsafat Universitas Gajah Mada. Kami berlima menyewa mobil untuk sampai di sana. Saat mengajak mereka, saya sengaja tutup mulut soal puncak Wartburg yang tak sepenuhnya dapat dicapai dengan mobil – harus mendaki sedikit. Ini kali kedua saya mengunjungi Wartburg; sebelumnya di awal tahun 2005 yang dingin beku penuh salju.

Kastil Wartburg beririsan dengan banyak sejarah Jerman. Salah satu irisan terpenting adalah dengan Martin Luther, bapak Protestanisme dan peletak dasar bahasa Jerman modern.

Luther pernah bikin jengkel banyak orang. Meminjam istilah yang sempat populer di tanah air: Luther itu “provokator“. Apalagi kalau bukan 95 butir tesisnya yang melancarkan kritik atas praktek kekristenan masa itu. Saat itu, pada awal tahun 1500-an, dengan sejumlah uang para pendosa dapat membeli surat pengampunan dosa dari gereja. Uang hasil “transaksi dosa“ itu digunakan untuk membangun gedung gereja yang megah. Dosa ditukar dengan uang. Luther protes.

Tulis Luther satu waktu, “Sejurus keping-keping uang bergemerincing di koper, jiwa di neraka bangkit.“ Wenn das Geld im Kasten klingt, die Seele aus dem Fegefeuer springt.

Gara-gara tesis yang disebarluaskan pertama kali di Wittenberg, ajaran Luther mendapat fatwa “sesat“. Ia ditendang keluar dari gereja. Ia tak boleh memberikan kuliah (Luther adalah profesor di Universitas Wittenberg, tempat Derry belajar kedokteran saat ini). Tulisan dan karya Luther dibakar.

Luther juga dilarang oleh pihak berwajib, Kaisar Reichstag. Barangsiapa mendukung Luther, memberikan bantuan, atau membaca dan mengedarkan karya Luther, akan ditangkap. Mirip larangan di Indonesia kalau baca Karl Marx, “provokator“ Jerman lainnya. Kaisar – yang bersekongkol dengan pihak gereja – bahkan mengiming-imingi hadiah bagi mereka yang bisa menangkap dan menyerahkan Luther.

Luther bergeming. Tapi kondisi saat itu terlalu berbahaya bagi dirinya.

Pada sebuah malam di bulan Mei 1521, dalam perjalanan yang panjang menuju rumah, ia diculik di sekitar Eisenach. Diculik oleh pasukan Friedrich der Weise, pangeran dari Sachsen. Tak serupa dengan Tim Mawar yang menculik para aktivis demokrasi penentang Suharto, pasukan khusus yang diperintah Friedrich sebaliknya justru hendak melindungi Luther. Pasukan Friedrich lalu membawa Luther ke kastil Wartburg. Kastil kokoh di puncak bukit itu.

Waktu kecil, saya selalu menganggap Alkitab dibawa ke bumi oleh malaikat dari langit. Dan di punggung malaikat berjubah putih itu terpasang lampu neon. Saat terbang, jubah para malaikat dikibas angin dan di belakang mereka berpendar cahaya terang. Di kampung saya, di Minahasa, sebagian besar warga menganut Kristen Protestan dalam tradisi Luther. Kekristenan masuk tanah Minahasa oleh para misionaris Jerman.

Menyusuri jejak Luther, rupanya perihal Alkitab lebih ruwet ketimbang fantasi kanak-kanak macam itu.

Di Wartburg, Luther menulis dan berkarya. Ia terjemahkan kitab Perjanjian Baru dari bahasa Latin ke dalam bahasa Jerman. Terjemahan itu ia lakukan dalam tempo relatif singkat – hanya 10 minggu. Di tempat yang tak diketahui siapa-siapa itu, ia gunakan nama samaran “Junker Joerg“, supaya tak dikenal. Luther juga menelurkan belasan teks teologis lain.

Sebelum terjemahan Luther itu, Alkitab ditulis dalam bahasa Jerman yang rumit. Petani dan warga tak mampu paham isi apalagi maksud Alkitab. Luther memilih kata-kata terjemahan yang lugas dan sehari-hari. Kosakata yang sarat imajinasi petani.

Di kastil Wartburg, kerja menulis dan terjemahan Alktitab dilakukan Luther pada sebuah ruang yang dilengkapi tungku pemanas. Tungku warna hijau. Ruang itu tak terlalu luas dan berdinding kayu. Cahaya menerobos jendela di sisi kiri pintu masuk. Selain kursi, terdapat satu meja kayu kecil di situ, sekitar 1 x 1,5 meter. Orang bilang itu ruang Luther alias Lutherstube.

“Bayangkan, di ruangan berdebu begini, ia (Luther) bisa berkarya produktif,“ kata Farid, dengan mimik serius. Telunjuknya mengarah meja itu sementara matanya menyasar saya, penuh arti.

“Iyalah, Pak,“ kata saya. “Kalau waktu itu udah ada Facebook, pastilah Luther ngga seproduktif gitu. Palingan banyak waktunya juga habis di depan laptop.“

Saya tak kuasa menahan tawa. Farid yang hendak serius jadi tertawa. Fadjar yang sibuk memotret, ikut tertawa. Kami tertawa kecil – khawatir mengganggu pengunjung yang lain.

Mendengar celoteh kami, Profesor Doktor Martin Luther yang konon gemar bercanda itu barangkali bakal tertawa pula.***

- Wartburg, 6 Juni 2009.


Baca juga Natal bersama Martin Luther



25 April, 2009

(Kegagalan) Pasar

"Ich bin den himmlischen Mächten -- welche auch immer es sein mögen und wenn es sie überhaupt gibt -- dankbar, dass sie den Markt mitsam dem Marktversagen erfunden haben."

"Saya mengucap syukur pada kuasa surgawi -- siapapun mereka dan kalaupun mereka ada -- sebab telah menciptakan Kegagalan Pasar (market failures) bersama-sama dengan Pasar itu sendiri."

Richard Abel Musgrave, ekonom.

Kutipan wawancara Richard Musgrave di koran Frankfurter Allgemeine Zeitung, 26 Maret 2006. Dikutip kembali dalam Hans-Werner Sinn (2009), "Please bring me the New York Times - On the European roots of Richard Abel Musgrave", International Tax and Public Finance, 16.

15 April, 2009

Makatana Blues

Oleh Fredy Sr. Wowor
(Untuk Christ Sondey)


Qta babale ka gunung, Coy

Lantaran Manado solebe fugado
Punung deng abu sisa reklamasi
For beking mallmall sepanjang bolevard

Qta babale ka gunung, Coy
Lantaran kampus solebe sumpek
Fol orangorang bataiminya
Nintau SPP nae trus tiap taong

Qta babale ka gunung, Coy
Lantaran di sini solebe tabiar
Sudarasudara pigi blayar satusatu
Nda sadar tana mulai takere sadikisadiki


Penulis puisi ini, Fredy Sreudeman Wowor, adalah sastrawan dari Sonder, Minahasa. Mengajar di Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi Manado, ia bergiat pula dalam gerakan kebudayaan Minahasa. Karya-karya Fredy dapat ditengok di blog pribadinya.

23 Maret, 2009

Macet ngeblog

Hampir sekitar tiga bulan saya tidak menulis di blog. Saya pulang ke tanah air guna mengumpulkan data untuk riset doktoral saya. Saya berada di Jakarta dan Manado. Di Jakarta, saya bolak-balik ke Bappenas, Departemen Kehutanan, dan terutama Departemen Keuangan. Sangat menyita waktu. Saya juga bertemu dengan beberapa teman lama dan rekan ekonom yang selama ini sekedar bersua di internet atau blog. Selebihnya, saya habiskan waktu bersama Cyanthi, pacar saya.

Di Manado, pengumpulan data tak menyita waktu sebagaimana saat di Jakarta. Dus, saya jadi punya waktu lebih untuk bertemu sanak keluarga, dan mengunjungi makam orang tua di Airmadidi, ibukota kabupaten Minahasa Utara. Dan dari sedikit sisa waktu yang saya punya saya habiskan bertukar cerita bersama teman-teman petani, pencinta alam, dan pegiat anti-korupsi di Tonsea. Tonsea adalah nama daerah sekaligus sub-etnis yang mendiami utara Minahasa.

Saya sempat jadi moderator dalam diskusi terbuka yang diselenggarakan Komite Rakyat Minahasa Utara (KRMU), organisasi masyarakat yang turut saya bidani lahirnya. Tema diskusi terkait kelayakan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Minahasa Utara. Lantaran menggunakan sistem open dumping (pembuangan terbuka) serta melanggar tata ruang, TPA ini dilawan warga. Di luar itu, saya jadi pembicara dalam diskusi analisa APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) di gedung DPRD Sulawesi Utara, yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Manado.

Kota Manado sendiri agaknya telah banyak berubah ketimbang saat terakhir saya berkunjung, dua tahun lalu. Saya menangkap kesan, rasanya setiap orang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Aura pemilu pun terasa di mana-mana. Manado juga sedang mempersiapkan diri sebagai tuan rumah World Ocean Conference (WOC). Untuk perhelatan ini tak sedikit sumberdaya daerah yang dimobilisasi pemerintah. Padahal, tak kurang banyak persoalan lain yang juga butuh prioritas. Misalnya lampu jalan Manado-Bitung padam, jalan raya Minahasa Selatan - Bolaang Mongondow sarat lubang, untuk menyebut dua keping contoh.

Ke depan, saya harus menulis lagi.

25 Desember, 2008

Natal bersama Martin Luther

Patung Martin Luther di kota Eisleben. Di belakang tampak menara gereja St. Andreaskirche. Foto oleh Sonny.


Namanya Eisleben. Sebuah kota mungil di negara bagian Sachsen Anhalt, Jerman. Penduduknya sekitar 23.000 orang. Kota Eisleben adalah tempat Martin Luther lahir. Juga tempat bapak Protestanisme itu mangkat, dan dikubur. “Eisleben war mein Vaterland,“ Eisleben tanah airku, ujar Luther, dalam sebuah obrolan di meja makan. Terkait banyak dengan Luther, kota ini diberi nama Lutherstadt Eisleben.

Pada pagi hari, 25 Desember, 2008, kabut memeluk Eisleben. Udara begitu dingin. Dinginnya menggigit-gigit muka, dan telinga, dan punggung telapak tangan saya yang telanjang. Pagi itu, saya masuk gereja St. Andreaskirche, gereja tempat Luther melancarkan khotbah-khotbah terakhirnya. Gereja ini dibangun pada abad ke-15. Di dalam gereja, lengkung-lengkung konstruksi penopang atap saling bertaut, seperti urat-urat daun saling berkait dalam sepucuk daun muda. Khas arsitektur gotik.

Tak banyak yang ikut ibadah - tak sampai 30 orang. Pendeta Scott A. Moore memimpin ibadah. Pendeta ini asalnya dari Chicago, Amerika Serikat. Bersama istrinya, Claudia Bergmann, ia bertanggung jawab atas pelayanan di tiga gereja penting di Eisleben. Ia bicara bahasa Jerman dengan baik sekali. Pagi itu, ia mengenakan jubah putih. Berkacamata. Jenggotnya dibiarkan tumbuh pendek, memenuhi dagu, geraham dan pipi.

Sekelar ibadah, saat bersalaman dengan jemaat di depan pintu gereja, saya jadi tahu, ada anting-anting di kuping kanan pak pendeta. (Apa jadi bila seorang pendeta mengenakan anting-anting di kampung saya, di Minahasa? Pasti jadi gunjingan jemaat gereja. Pihak sinode gereja, di kantornya yang megah dan mewah, bakal bikin rapat pendisiplinan, kalau bukan pemecatan.)

“Anda tamu Ineke?” tanya pendeta dengan ramah. Tangan kanannya menyalami tangan saya.

Saya mengangguk. Ineke, kenalan saya, seorang perempuan Minahasa yang tinggal tak jauh dari Eisleben. Ia anggota jemaat gereja St. Andreaskirche. Saya ibadah Natal di Eisleben bersama dia, suaminya, dan tiga anak mereka yang masih kecil, manis dan lucu.

Gereja penting lain adalah St. Petri-Pauli-Kirche. Berdiri tak jauh dari gereja St. Andreaskirche. Luther kecil dibaptis di gereja ini, 10 November, 1483. (Kalau saja jaman itu sudah ada teknologi foto, dugaan saya, potret bayi Luther bertubuh gendut dan bikin gemas. Dengan pipi gempal yang mengundang cubit.) Lantaran tak ada sistem pemanas, saat musim dingin ibadah tidak dilaksanakan di gereja ini, tapi pindah ke gereja St. Andreaskirche. Termasuk ibadah Natal.

Rumah tempat Luther lahir adalah bangunan penting lain di Eisleben. Berdiri tak seberapa jauh dari gereja St. Andreaskirche, rumah lahir Luther merupakan salah satu musium tertua di negara-negara yang berbahasa Jerman. Mengikut ideal pendidikan ala Luther, di kompleks rumah itu dibangun pula Armenfreischule - sekolah bagi kaum miskin.

“Anda studi apa?” tanya pendeta lagi. Tangannya kini telah lepas dari tangan saya.

"Ilmu ekonomi, Pak pendeta." Ilmu tentang bagi-membagi sumberdaya.

Sebuah meja diletakkan beberapa langkah dari pintu masuk gereja, dari tempat pendeta berdiri menyalami jemaat. Meja bercat hitam pekat. Kartu ucapan selamat Natal disusun rapi di atas meja. Sejajar dengan kartu ucapan, disusun kantong-kantong kecil.

Kira-kira selebar tiga jari orang dewasa, kantong sumbangan itu terbuat dari kertas krem, dengan tulisan warna hijau. Kantong-kantong itu disebar Brot für die Welt (roti bagi dunia), sebuah inisiatif gereja-gereja Jerman bagi persoalan sosial dan pembangunan di negara-negara berkembang dan miskin.

Saya ambil satu kantong. Di bagian depannya tertulis kata-kata berikut.

Fairgeben
Fairsorgen
Fairteilen

Gottes Spielregeln
Für eine gerechte Welt.

Alihbahasa kata-kata Jerman ini adalah soal bagi-membagi. "Memberi secara adil. Menyelia secara Adil. Berbagi secara adil. (Itulah) aturan main Tuhan untuk sebuah dunia yang adil."

***

Update: Tulisan ini terbit dalam Surat Pembaca, Harian Komentar (Manado), 3 Januari 2009.

21 Desember, 2008

A ballad of ecological awareness

Kenneth E. Boulding

The cost of building dams is always underestimated -
There's erosion of the delta that the river has created,
There's fertile soil below the dam that's likely to be looted,
And the tangled mat of forest that has got to be uprooted.

There's the breaking up of cultures with old haunts and habits loss,
There's the education program that just doesn't come across,
And the wasted fruits of progress that are seldom much enjoyed
By expelled subsistence farmers who are urban unemployed.

There's disappointing yield of fish, beyond the first explosion;
There's silting up, and drawing down, and watershed erosion.
Above the dam the water's lost by sheer evaporation;
below, the river scours, and suffers dangerous alteration.

For engineers, however good, are likely to be guilty
of quietly forgetting that a river can be silty,
While the irrigation people too are frequently forgetting
That water poured upon the land is likely to be wetting.

The the water in the lake, and what the lake releases,
Is crawling with infected snails and water-born diseases.
There's a hideous locust breeding ground when water level's low,
And a million ecological facts we really do not know.

There are benefits, of course, which may be countable, but which
Have a tendency to fall into the pockets of the rich,
While the costs are apt to fall upon the shoulders of the poor.
So cost-benefit analysis is nearly always sure,
To justify the building of a solid concrete fact,
While the Ecological Truth is left behind in the Abstract.


-- This phoem of the economist Kenneth Boulding is reproduced in Malcolm Newson's Land, Water and Development (1992), pages 174-175.

04 Desember, 2008

Mengunjungi Munich

Akhirnya saya ke Munich. Setelah bertahun-tahun tinggal di Jerman, baru kali ini saya berketetapan hati mengunjungi ibu kota negara bagian Bavaria ini.

Saya mengunjungi sahabat karib saya, Christian. Saya di Munich untuk beberapa hari, sampai awal Desember. Kami pernah sama-sama kuliah di Martin-Luther-Universitaet Halle-Wittenberg, mengambil program master ekonomi empirik.

Sekarang ia meneliti di ifo, Institut für Wirtschaftsforschung, Munich, salah satu institut riset ekonomi terpenting di Jerman. Di institut itu ia menaksir kecenderungan penerimaan pajak di Jerman.

Di Munich kebanyakan orang bicara dengan dialek bayrisch. Dialek yang terdengar agak ganjil di kuping saya. Di tempat saya tinggal, di Leipzig, orang berdialek saechsisch. Dialek yang disebut belakangan ini tak kurang aneh pula. Mendengarnya, ibarat mendengar orang bicara dengan mulut penuh salat kentang.

Kami pergi ke pasar natal di pusat kota. Munich punya pasar natal terbesar di Jerman. Namanya Christkindlmarkt. Tradisi pasar ini sudah dimulai sejak pertengahan abad ke-18. Di pasar itu dibangun rumah-rumah kayu kecil untuk berjualan. Rumah-rumah itu dicat cokelat atau krem tua. Hiasan lampu-lampu natal juga unjuk kecantikan, berpendar di atas jalan dan di pohon, atau menjulur di dinding gedung. Orang-orang bicara keras dan tertawa lepas. Gaduh dan ramai benar.

Di sana, seraya meneguk Gluehwein, anggur hangat, Christian cerita panjang lebar tentang ekonomi Keynesian. Pemikiran ekonomi yang diperas dari gagasan-gagasan ekonom Inggris, John Maynard Keynes. Mendengarnya bicara, saya acap cuma mengangguk, sambil makan sosis, dan satu dua kali memerhatikan warga kota yang meluncur di atas arena ski es.

Saat tengah malam tiba, kami mengunjungi teater kecil di jalan Fraunhofer. Tempat para bohemian nongkrong. Teater berkursi sekitar 40an itu memutar film-film alternatif. Saya nonton film tentang masyarakat Jerman, ketika didera depresi ekonomi tahun 1930. Saya sempat tertidur sekejap saat film diputar - agaknya, gara-gara kecapaian menyusuri kota sepanjang hari. Ada pula restoran di lokasi teater. Satu pelayannya seorang gadis Jerman yang sangat ramah. Dan cantik. Gadis ini bikin topik kami langsung bergeser dari Keynes.

Berkali-kali Munich diguyur hujan. Jadi sedikit tak bebas saya menikmati kota. Namun, pada Selasa, 2 Desember, 2008, hujan tak turun. Hari itu berlangsung demonstrasi mahasiswa di Universitas Munich. Para mahasiswa protes pungutan biaya SPP atau Studiengebuehren. Sejak musim panas 2007, studi di negara bagian Bavaria dikenakan SPP. Sebelumnya mahasiswa tak perlu bayar. Tulis koran Die Welt, sekitar 7.000 orang turun ke jalan waktu itu. Padahal udara begitu dingin. Saya ikut demonstrasi. Dingin, tapi menyenangkan.

Walau menikmati kota, sekali waktu saya dihinggap rasa sendiri. Apalagi kalau bukan lantaran ingat pacar yang jauh di tanah air. Saat singgah di toko buku Hugendubel, di Marienplatz, dan hari telah gelap, saya menulis baris-baris berikut di secarik tissue.

Kita bersua di lantai empat.
Membukabuka buku,
menandas cokelat hangat.

Di kaca jendela, tidur menara balaikota.
Dipeluk gelap diremas dingin,
dicium pendar lelampu natal.

Cyanthi, dan bola airmata itu diam-diam bocor.
Menetes menghantam buku.

-- München, 1 Des 2008

Sebelum kembali ke Leipzig, saya sempatkan diri mampir di galeri Pinakothek der Moderne. Sebuah galeri seni yang berkesan, dengan rupa-rupa pameran yang bikin puas. “Sehr empfehlenswert!” kata seorang penjual buah tak jauh dari galeri, yang menunjuk jalan pada saya.

Saat gelap baru saja hendak menyergap kota Munich, kereta api ICE yang saya tumpangi telah melesat menuju Leipzig.

***

09 November, 2008

Jerman melawan energi nuklir

Politikus dari Partai Hijau Jerman (Die Gruene) ikut demonstrasi anti-nuklir. Foto oleh Deutsche Presse-Agentur.


Kereta api pengangkut sampah nuklir itu terhenti. Dicegat sekitar 15 ribu demonstran anti-nuklir. Kereta itu, namanya Castor, datang dari Perancis. Ia hendak menuju Gorleben, di negara bagian Niedersachsen, di utara Jerman. Gorleben adalah tempat buang sampah nuklir atau Atommülllager.

Ramai benar di Gorleben pada Sabtu, 8 November, 2008. Ada orang menari. Ada acara baca buku. Ada orang berdandan seperti badut. Macam-macam. Begitu tulis media massa. Anak-anak melukis pula wajah mereka dengan simbol anti-nuklir. Rasanya seperti ada festival saja.

Petani setempat dan serikat buruh sepertinya tak mau ketinggalan. Petani mengerahkan ratusan traktor untuk memblokir jalan. Pemimpin serikat buruh menyerukan anggotanya ikut serta dalam demonstrasi dan blokade.

Kemudian ada pula orang-orang yang menduduki rel kereta. Dekat perbatasan Perancis-Jerman, bahkan ada yang merantai dan mencor dirinya di rel.

Di kerumunan tampak politikus dari Partai Hijau, Die Gruene. Berselimut dingin November, beberapa anggota DPR partai ini ikut bersama warga duduk di atas rel kereta. Partai Sosial-Demokrat (SPD) dan Partai Kiri (Die Linke) juga memberi sokongan.

Kebijakan lingkungan hidup memang lekat dengan politik. Di negeri Jerman, hanya kelompok konservatif dan neoliberal, seperti Partai Kristen Demokrat (CDU) dan Partai Liberal (FDP), yang mendukung gagasan pembangkit tenaga nuklir. Di Indonesia, CDU diwakili yayasan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), sementara FDP oleh Friedrich Naumann Stiftung (FNS).

Sudah tentu, di tengah-tengah demonstrasi dan blokade, hadir pula pak dan bu polisi. Ribuan jumlahnya, tulis juru warta. Mereka hadir lengkap dan berkekuatan penuh.

Suara helikopter meraung-raung di udara. Seperti dalam film saja.

***

21 Oktober, 2008

Nobel untuk pengikut Keynes

Sonny Mumbunan
Kompas, 21 Oktober 2008


Kok bisa, Mercedes- Benz, mobil Jerman itu, dijual di Jepang sementara Toyota dipasarkan di Jerman?

Pertanyaan ini sulit dijelaskan teori perdagangan yang bersandar pada prinsip keunggulan komparatif. Seperti dikemukakan David Ricardo awal abad ke-19, negara unggul bertani sebaiknya fokus pada pertanian; negara efisien bikin baju lebih baik memusatkan diri pada tekstil. Berdagang dua barang berbeda, kedua negara bakal sama-sama untung, demikian menurut teori perdagangan lama.

Ekonom Amerika Serikat, Paul Krugman, diganjar Nobel Ekonomi tahun ini untuk sumbangannya memahami perdagangan mobil seperti di atas.

Kita tahu, perusahaan bisa menekan biaya rata-rata bila produksinya diperluas. Harga produk jadinya bisa diatur perusahaan, sementara perbedaan harga antara produk serupa–yang tak banyak ragamnya–tidak terlalu memengaruhi konsumen. Dalam keadaan demikian, persaingan sempurna tidak terjadi dalam pasar. Ekonom menyebutnya kompetisi monopolistik. Krugman berangkat dari konsep ini.

Dalam ekonomi yang lebih besar dan terbuka, misalnya karena melakukan perdagangan, ceritanya menjadi lain. Di sana, pilihan bagi konsumen menjadi lebih banyak macam untuk satu produk, apalagi konsumen cenderung suka pilihan beragam. Walau kedua negara punya produk hampir serupa, katakanlah kesamaan tingkat teknologi atau skill pekerja, semuanya diuntungkan saat berdagang. Ekonomi terbuka jadinya memungkinkan Jerman dan Jepang sama-sama saling dagang mobil. Sebuah intra-industry trade. Lebih seru lagi, bahkan kini sebuah negara mungkin melakukan sekaligus impor dan ekspor mobil, seperti Swedia.

Pusat dan pinggiran

Paul Krugman mempunyai sumbangan yang lain. Ia menambatkan dimensi ruang pada analisis ekonomi perdagangan. Dalam teropong ekonomi geografi, kawasan dilihat sebagai pusat (core) dan pinggiran (periphery), misalnya daerah dengan basis industri dan pertanian.

Baginya, perusahaan di daerah yang berpenduduk lebih padat bakal lebih untung. Mengapa demikian? Secara teoretis, perusahaan bisa menurunkan biaya rata-rata produknya. Biaya transportasi pun menciut, sebab pasar lebih dekat. Konsumen beroleh harga lebih murah, produk jadi le- bih beragam, dan upah naik. Orang dan perusahaan pun pindah ke daerah padat. Ini berlangsung sedemikian rupa, secara berjejalin saling memengaruhi. Akibatnya, memang, ada kemungkinan pembelahan antara kota besar yang padat dan kawasan yang ditinggal dan tertinggal.

Dalam kenyataan, ceritanya bisa jadi lebih kaya. Misalnya, haluan kapal-kapal dari pelabuhan Darwin, di utara Australia, barangkali tidak menyasar Sorong atau Ambon, pelabuhan-pelabuhan laut di timur Indonesia walau berjarak lebih dekat berbiaya transpor lebih rendah. Melainkan, menuju Banten yang lebih jauh tapi disesaki kawasan industri.

Akan tetapi, konsentrasi ekonomi juga punya sisi lain. Setelah keuntungan menurun, seperti biaya produksi yang naik atau inovasi yang mandek, perusahaan di ”pusat” bisa pindah ke ”pinggiran.” Pada tingkat tertentu, kecenderungan relokasi produksi berbasis teknologi dari kawasan selatan Jerman ke timur Jerman bisa jadi contoh. Demikian pula tumbuhnya ekonomi sektor-sektor tertentu di Eropa timur.

Model ekonomi yang dikembangkan Krugman adalah perumpamaan terbatas dari kenyataan. Sumbangannya penting bagi ilmu ekonomi dan pemahaman kita tentang bagaimana ekonomi terbuka bekerja. Tentu, perdagangan dan pengembangan kawasan dipengaruhi banyak macam hal, kadangkala nonekonomis. Kawasan Perdagangan Bebas (FTZ) di Batam, misalnya, adalah ideal berlangsungnya mekanisme pasar. Dalam ideal itu, pajak semestinya tidak diberlakukan di Batam. Uniknya, penentang penghapusan pajak di Batam adalah IMF, kampiun pasar bebas, karena potensi penerimaan bagi negara.

Contoh lain pelabuhan Bitung, di utara Sulawesi. Petani dan pengusaha Minahasa sempat sekian lama harus mengirim barang dari sana lewat Surabaya yang mahal. Padahal, transportasi langsung ke Singapura jauh lebih murah. Lalu, Sabang di Aceh. Pemberian status kawasan perdagangan bebas baginya, barangkali tidak semata-mata karena pertimbangan ekonomi.

Pendukung Obama

Sulit menampik untuk melihat sisi Krugman yang non-akademis mengingat ia seorang komentator dan penulis populer. Berbeda dengan model-model ekonominya yang tidak politis, sosok sehari-hari Krugman sepertinya melihat, ekonomi tak bisa dipisah dari politik. Mirip John Maynard Keynes, ekonom besar yang membenarkan campur tangan negara dalam mengelola dan mendorong perekonomian.

Krugman mengakui peran serikat buruh dalam penentuan upah. Ia berpendapat, upah minimum yang layak tidak selamanya menyebabkan pengangguran. Ia pun kurang yakin, andai pelayanan kesehatan bagi warga negara diserahkan penuh pada pasar, setak yakin ia bahwa pemotongan pajak selalu baik bagi ekonomi. Dapat dimaklumi, mengapa ia kerap bikin gemas kaum ”fundamentalis pasar” dan kelompok konservatif di negeri itu. Krugman mengkritik keras pula kebijakan George Bush yang sepihak menyerang Irak.

Di tengah krisis ekonomi sekarang, secara terbuka Krugman menyokong Barack Obama, kandidat presiden dari Partai Demokrat yang kebijakannya kental kehadiran negara. Tampaknya Obama dan Krugman adalah wakil Keynes di medan intelektual dan politik. Dalam upaya mengakali keterbatasan kapitalisme.

***


14 Oktober, 2008

Aliansi Mawar Putih menolak RUU anti pornografi

Saya suka iklan penolakan Rancangan Undang Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang dikeluarkan Aliansi Mawar Putih.

Iklan puitis, cantik, mudah ditangkap, sekaligus menohok. Iklan yang punya kecerdasan agitasi. Dipasang di berbagai media massa, kabarnya iklan itu dibiayai secara gotong royong oleh ribuan orang.

Nama mawar putih mengingatkan saya pada sekelompok mahasiswa di Jerman, awal 1940an. Didorong rasa kemanusiaan, mereka melawan fasisme Hitler dan Partai Nazi. Berjuang di bawah tanah, kelompok itu menamakan dirinya "Weisse Rose" alias mawar putih. Ada gadis luar biasa disitu. Seorang mahasiswi kedokteran yang manis. Sophie Scholl namanya. Semua anggota kelompok ini akhirnya ditangkap. Sebagian besar dipancung kepalanya.

Saya takjub, ada banyak orang di Indonesia melawan fasisme, yang mengendap-ngendap masuk lewat pintu moral RUU APP. Iklan itu mirip selebaran yang dihamburkan tangan-tangan mungil Sophie Scholl dari lantai atas gedung Universitas Munich.

"Kita akan berjumpa dalam keabadian," kata Sophie pada ibunya, sebelum kepalanya menggelinding di meja pancung.


***

KAMI MENOLAK RUU APP

Indonesia adalah taman bunga peradaban.
Di dalamnya mekar beragam tradisi.

Indonesia adalah pelangi kebudayaan.
Di dalamnya berpendar beragam adat.

Indonesia adalah lahan subur kesenian.
Di dalamnya tumbuh beragam kreasi.

Indonesia adalah ruang semua agama.
Di dalamnya bergema beragam doa.

Kini, keragaman itu sedang terancam oleh RUU APP.
Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi melarang kita menikmati kekayaan budaya kita.

Kita dilarang berpakaian menurut adat kita.
Kita dilarang mengungkapkan kasih sayang pada orang yang kita cintai.
Kita dilarang mengekspresikan keindahan tubuh dan tari-tarian kita.
Kita dilarang mengungkapkan kekayaan seni dan sastra kita.
Kita dilarang untuk menjadi diri kita sendiri.

RUU APP bukan melarang pornografi,
melainkan membenci tubuh manusia,
mendiskriminasi kaum perempuan.

RUU APP terlalu jauh memasuki wilayah pribadi manusia,
yaitu tempat setiap orang memelihara keunikannya.

Setiap orang memiliki ukuran moral yang berbeda.
Setiap orang memiliki persepsi sensualitas yang berbeda.
Setiap orang memiliki daya imajinasi yang berbeda.

Tentu, kita ingin lindungi anak-anak kita. Karena itu pornografi sudah diatur dalam undang-undang tentang perlindungan anak.

Tentu, kita ingin media massa tumbuh sebagai alat komunikasi yang santun dan cerdas. Karena itu masalah pornografi sudah diatur dalam undang-undang tentang penyiaran.

Bahkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sudah jelas mengatur masalah pelanggaran kesusilaan.

Jadi, Cukup!

Jangan merusak keragaman Indonesia dengan RUU APP yang keliru itu.

Indonesia adalah keragaman untuk semua.
Indonesia adalah kebebasan untuk semua.
Indonesia adalah kesetaraan untuk semua.
Indonesia adalah kedamaian untuk semua.


- ALIANSI MAWAR PUTIH

***

11 Oktober, 2008

Ekonom, McCain dan Obama

Ekonomi adalah tema penting dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat, 2008. Tak kurang penting adalah peran para ekonom. Baik dalam mendongkrak profil para kandidat ataupun dalam memberi daging (kerap pula tulangnya) pada formulasi kebijakan ekonomi sang kandidat. Dalam kubu kedua calon presiden, John McCain dan Barack Obama, bertebaran ekonom-ekonom penting.

Beberapa penerima Nobel Ekonomi menyokong McCain, seperti diberitakan situs kampanye miliknya. Tampak sosok Gary Becker, James Buchanan, Robert Lucas, Robert Mundell, juga Vernon Smith, dalam daftar pendukung. “Garis“ ekonomi McCain tercermin dari pilihan-pilihan kebijakan yang konsisten dengan mekanisme pasar dalam alokasi sumberdaya ekonomi. Peran negara adalah minimal kalau bukan nihil, terkait pengorganisasian masyarakat dan gerak sumberdaya.

Posisi pandangan (ekonomi-) politik para ekonom di kubu McCain adalah konservatif. Menarik, jadinya, melihat nama Vernon Smith bertengger di daftar. Ia pelopor penggunaan eksperimen dalam ekonomi (lazim disebut ekonomi eksperimental), cabang ilmu ekonomi yang – dalam perkembangan lanjut – banyak menyelia bukti empiris keterbatasan pendekatan rasionalitas ekonomi aliran neoklasik.

Sebagai keterangan, hasil riset Vernon Smith relatif berbeda dengan banyak kecenderungan dalam behavioral game theory. Temuan Smith mendukung model rasional, aktor ekonomi yang hanya merujuk diri sendiri (self-interested) saat bikin keputusan, serta pertukaran pasar yang berujung pada keseimbangan harga, tulis ekonom Herbert Gintis dalam jurnal Analyse & Kritik, 2005 (file pdf). Dari riset-riset lebih baru, temuan-temuan Vernon Smith telah dikoreksi, sebagian terbukti tak akurat; asumsi-asumsinya pun telah diperluas.

Sekarang, siapa ekonom pendukung Obama?

Di sana, berjejer pula pemenang Nobel Ekonomi. Ada Joseph Stiglitz di situ, bersama Edmund Phelps, Daniel McFadden dan Robert Solow, demikian tulis sebuah blog pendukung Obama. Pandangan politik para ekonom ini dapat dikelompokkan sebagai progresif, untuk membedakan mereka dengan kelompok ekonom di kubu McCain. (Catatan: pengelompokan ini mengacu pada pengertian di Amerika yang longgar, bukan misalnya di Eropa, yang punya definisi lebih ketat. Di AS, misalnya, seorang Amartya Sen bakal tampak sangat kiri.) Mereka percaya bahwa mekanisme pasar tidak tahu segalanya, punya batas dan tidak menyelesaikan semua soal. Peran negara menjadi absah, kalau bukan dibutuhkan, kapan mekanisme pasar mentok.

Di kubu Obama, saya melihat pula nama ekonom Richard Thaler.

Thaler bukan penerima Nobel (saya berharap, dalam pengumuman yang segera diumumkan beberapa hari ke depan ini di Stockholm, Thaler menjadi salah satu pemenang. Meski, kemungkinan itu kecil sebab bidang behavioral economics yang digeluti Thaler, telah diganjar Nobel Ekonomi tahun 2002.) Thaler merupakan penasehat ekonomi Obama. Kebijakan ekonomi kesehatan dari Obama, kental sentuhan Thaler.

Menggunakan behavioral economics, riset Thaler tentang hakekat perilaku dan keputusan manusia, memberi sumbangan berarti dalam upaya memahami soal-soal terkait kebijakan kesehatan, kredit ataupun jaminan sosial. Wartawan harian The New York Times, David Leonhardt, menyebut behavioral economics sebagai "gerakan akademik berhaluan kiri", yang melancarkan kritik atas ekonomi neoklasik tradisional. Saya suka gagasan-gagasan Thaler. Bersama Cass Sunstein, ia menulis Nudge, yang terbit tahun ini. Buku yang lucu, enteng dibaca, tapi bikin pintar.

Sepertinya angin sedang berada di belakang Obama. Ekonom yang tergabung dalam American Economic Association (AEA), berdasar sebuah survey independen (hasil sementara), condong memilihnya untuk kebijakan-kebijakan ekonomi yang dalam hemat para ekonom lebih baik. Dalam survey itu, melibatkan sekitar 500 ekonom yang mukim di AS (dari sekitar 6.000 ekonom yang sepakat ikut survey), komposisi politik para ekonom adalah demokrat (48 persen), republik (17 persen), sisanya independen (28 persen).

Mirip pula kecenderungan yang muncul dari hasil survey majalah konservatif The Economist. Sampelnya - 140-an ekonom dari sekitar 180 staf - diambil dari para ekonom di National Bureau of Economic Research (NBER). 46 persen yang ikut survey merasa dirinya adalah demokrat, 10 persen republik, sisanya, 44 persen, adalah independen.

Proporsi ekonom di AS yang dekat dengan demokrat lebih besar dalam kedua survey itu. Ekonom "progresif" rupanya lebih banyak.


***

06 September, 2008

Tanah tinggi

Kartu pos memanjang itu merangkum kota dari atas, dari tempat tinggi. Ada angkasa memeluk hangat hehijauan pohon di kolong langit. Ada pula bangunan-bangunan tua yang berbaris, menyembul di dasar kartu. Aku pilih kartu itu, agar kau sempat tengok kotaku. Kota tempatku belajar, tempatku menggumuli makna air mata. Dengan kartu itu, aku harap, kau bakal membiarkan senyummu lepas meninggalkan dada sesak penuh bangga yang menari-nari.

Di kartu itu, aku tulis, tak mampu balas sejumputpun bantuan yang kau selia bagi kami sekeluarga, bagiku sedari kecil. Di situ, dengan bergetar, aku menulis maaf: tak bisa membesukmu, saat kau letih meregang nafas. Kau menitikkan air mata, cerita mereka yang menemani kau membaca kartu.

Awal tahun depan pasti aku datang menjenguk, membawa minyak wangi titipanmu. Pasti. Akan kulepas selang-selang itu dan luluri minyak sampai sekujur ragamu harum. Akan kudorong tubuh ringkihmu meluncur di atas kursi roda, biarkan mentari pagi menyapa kulitmu yang kering dan mengelam. Berdua lantas kita pergi ke pusat kota, dan, seperti janjimu tempo hari, akan kau tunjukkan padaku penjahit jas terbaik agar aku tampil necis di hari pernikahanku nanti.

Kau tidak menunggu. Di sore yang tenang kemarin, kau pamit ke tempat jauh. Ke tanah tinggi.

Selamat jalan, Ka Udjit.

***

28 Agustus, 2008

52 Bendera

Sonny Mumbunan
Kompas, 28 Agustus, 2008

Seperti apa imajinasi tentang Indonesia dalam kepala rakyat di Sangihe, Talaud, dan Sitaro, bentang laut dengan ratusan pulau di utara itu? Serupakah ia dengan Indonesia dalam bayangan penentu kebijakan di Jakarta?

Sesungguhnya, sejarah mereka adalah sejarah ke utara. Sejumlah besar anak negeri itu tidak bersua muka dengan saudara mereka di selatan. Namun, mereka—setidaknya sampai kini—diikat oleh imaji yang sama tentang Indonesia, tentang kesebangsaan, meski cuma dalam satu komunitas yang terbayang, seperti disebut indonesianis, Benedict Anderson.

Senantiasa bersyarat

Imajinasi itu konstruksi sosial. Semoga kita tak khilaf, konstruksi ini buah persinggungan dengan dan secara hidup dibuat ranum oleh kenyataan sosial. Sebab itu, ia senantiasa bersyarat.

Sangihe, Talaud, dan Sitaro (Satas) punya profil khusus yang tak dipunyai banyak saudara kandungnya. Mereka gugusan kepulauan, terletak pula di perbatasan. Di luar rawan bencana dan terpencil, mereka pun tinggal dan miskin. Dalam meramu kebijakan, kondisi-kondisi struktural ini kunci dan penting menurut pendekatan institution economics, tetapi kerap diabaikan ilmu ekonomi positivistik.

Terdapat dua sisi ketidaknyambungan alias category mistake yang menjepit pengembangan Satas. Di satu sisi, sebagai konsekuensi desentralisasi neoliberal, negara yang tangan kasihnya dibutuhkan malah tak kunjung hadir. Satu contoh, absennya politik fiskal yang lebih aktif untuk memajukan infrastruktur dan kapasitas kawasan miskin terbelakang. Contoh lain yang tragis, kegiatan pendidikan dan pemajuan bahasa Sangir, satu bahasa utama setempat, berlangsung di selatan Filipina, bukan justru di Indonesia.

Di sisi lain, ruang-ruang ekonomi dan potensi keuntungan karena bertukar di antara pelaku di perbatasan malah disempitkan. Tangan negara yang tidak dikehendaki hadir di mana-mana. Pembatasan mobilitas barang di perbatasan dengan Filipina jadi janggal pada saat Zeitgeist yang dominan di Jakarta berikut di selusin Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) justru adalah keutamaan liberalisasi perdagangan.

Ketidaknyambungan juga tecermin dalam kebijakan-kebijakan ekonomi-sosial lainnya. BBM dan BLT adalah yang mutakhir. Pencabutan subsidi BBM meningkatkan kemiskinan, sekurangnya dalam jangka pendek. Bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 100.000 per bulan dijadikan tali agar satu keluarga miskin tetap bisa diikat pada tingkat kemiskinannya seperti sebelum subsidi dicabut. Alih-alih menjadi pelipur lara bagi keluar- ga miskin, BLT mungkin tak sampai di pulau-pulau terpencil itu.

Bias kontinen

Ada dua catatan relevan. Pertama, dasar ”ilmiah” pencabutan subsidi BBM dan kaitannya dengan kemiskinan bersandar pada model ekonomi keseimbangan umum (computable general equilibrium). Dalam model buatan ekonom Jakarta itu, realitas kepulauan diabaikan. Kenyataan keterpencilan diperlakukan dengan kikir. Secara kategoris hanya ada Jawa dan luar Jawa. Miangas dan Marore ditempatkan sejajar dengan Medan dan Makassar.

Kedua, gagasan bantuan langsung seperti BLT—fondasi teoretisnya sendiri problematis, dikritik ekonom seperti Tibor Scitovsky (1941) dan Amartya Sen (1993)—disodorkan dengan harapan mampu mengompensasi penurunan kesejahteraan karena kenaikan harga secara umum. Kini harga minyak tanah meroket di SaTaS. Dikabarkan melampaui 100 persen dari harga eceran tertinggi versi pemerintah.

Kenaikan biaya transportasi tak kurang dramatis. Ini makin mengunci mobilitas warga kepulauan, menggenapi keterpencilan dan kian meningkatkan kemiskinan. Winsulangi Salindeho dan Pitres Sombowadile, penulis Daerah Perbatasan, Keterbatasan, Pembatasan (2008), menghardik kebijakan-kebijakan macam ini sebagai bias kontinen.

Ada faedahnya mengingatkan kembali, bayangan tentang Indonesia cuma konstruksi sosial. Pada 31 Agustus, 1933, satu dekade lebih sebelum RI berdiri merdeka, sekelompok orang muda di Lirung, Talaud, secara terbuka mengibarkan Merah Putih dalam arak-arakan perayaan resmi ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina, di Talaud. Seraya menyanyikan ”Sioh, kasihan Indonesia”, lagu lokal kaum republiken. Karuan saja tiga pemimpinnya dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Bandung.

Konstruksi sosial itu berubah- ubah. Pada sebuah sore di Mei dua tahun lalu, seorang petugas desa di Miangas, Talaud, yang mabuk digebuk kepala polsek sampai mampus. Ia dianiaya di depan banyak warga. Pada Pagi keesokan hari, masyarakat setempat menaikkan bendera Filipina. Ada 52 bendera waktu itu. Dikibarkan di atas tanah kita oleh tangan-tangan yang geram.

Untuk Jakarta yang pelupa isi pesan ini tak main-main: persatuan Indonesia itu ringkih. Ia perlu dirawat dengan baik. Sebaik saudara-saudara kita di utara merawat pohon pala dan perahu mereka.

Penulis, Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Leipzig, Jerman.

***

Catatan: Keterangan tentang aksi pengibaran bendera di Lirung, 1933, diambil dari Salindeho dan Sombowadile (2008) dalam buku mereka Daerah Perbatasan, Keterbatasan, Pembatasan, bab 3.

08 Agustus, 2008

Kombinasi angka cantik

Kombinasi angka delapan tampil begitu cantik dan pas hari ini. Jumat, 8 Agustus, 2008. Bila diringkas, jadi 080808. Pagi ini, sekelar mencuci pakaian, saya memeriksa e-mail. Dari selusin surat elektronik yang masuk, satu datang dari sahabat saya, Stenly Wullur. Surat ringkasnya mengingatkan kombinasi angka itu. Stenly adalah peneliti bioteknologi kelautan dan kandidat doktor di Universitas Nagasaki, Jepang.

Bagi blog yang menggunakan nama nomor delapan, terang saja kombinasi itu spesial.

***

28 Juli, 2008

Gerai

Catatan Pinggir Goenawan Muhammad
Majalah Tempo, Edisi 22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008


Mungkinkah Indonesia akhirnya hanya sederet partai?

Sekitar seabad yang lalu, kita tak akan berkeberatan dengan itu. Indische Partij, Partai Komunis, Partai Sarekat Islam, PNI, dan lain-lain lahir. Mereka datang dengan keyakinan.

Pada masa itu, ”politik” adalah gugatan. ”Politik” adalah usaha membongkar sebuah wacana yang dianggap cacat, tapi dijejalkan oleh mesin kekuasaan kolonial sebagai konstruksi yang final. Menghadapi itulah ”politik” adalah ”pergerakan”.

Berarti, di dalamnya ada kehendak mengubah keadaan, ke arah emansipasi sosial dan musnahnya ketidakadilan. Dengan kata lain, ada social imaginary: sebuah gambaran yang menggerakkan hati tentang sebuah kehidupan masyarakat yang lain, walaupun gambaran itu bukan sebuah desain yang siap.

Konon, pada awal abad ke-20, di asrama mereka, para murid STOVIA—yang kemudian jadi bara pertama perlawanan antikolonialisme—tiap malam menyanyikan lagu revolusi Prancis dengan berkobar-kobar: ”Kita lawan tirani!”

Berkobar-kobar—Chantal Mouffe menyebut arti passion dalam politik: fantasi, hasrat, ”semua hal yang tak dapat diringkus jadi kepentingan dan rasionalitas”, semua hal yang membentuk subyektivitas manusia. Dengan catatan: ”subyektivitas” itu bukan tentang ”aku”. Ia justru timbul karena ada sesuatu yang universal yang datang mengimbau, sesuatu yang berarti bukan cuma buatku, tapi bagi engkau, bagi sesama, sebuah dunia yang melampaui jagat kecilku.

Dari situlah passion, atau gelora hati, terbit. Mouffe bahkan menyebut perlunya ”mobilisasi gelora hati”. Sebab politik sebuah partai yang menganggap dirinya bagian dari pergerakan, sebuah partai dengan ”imajinari sosial” yang menggugah passion—partai politik yang seperti itu bukanlah tanda nafsi-nafsi.

Justru sebaliknya: didirikan hanya segelintir orang pun—seperti halnya Indische Partij—partai seperti itu pada dasarnya ingin menjangkau liyan, mereka yang lain yang juga sesama. PNI yang berangkat atas nama kaum ”marhaen” dan PKI yang atas nama kaum buruh keduanya membayangkan sebuah masyarakat di mana marhaen dan proletar akan lenyap, sebab tak akan ada kelas sosial lagi: manusia akan sama rata, sama rasa.

Tapi adakah partai yang seperti itu sekarang?

Kini sejumlah partai baru muncul bagaikan lapak dan gerai, kios dan show-room. Inilah zaman ketika advertensi tak henti-hentinya menyusupi ruang kehidupan. Inilah masa ketika hasil jajak pendapat umum jadi ukuran yang lebih penting ketimbang kebenaran, ketika penampilan yang atraktif dan riuh-rendah di televisi lebih efektif ketimbang prestasi dan gagasan sosial yang menggugah. Berangsur-angsur, dalam lapak dan gerai itu yang lebih menentukan bukanlah benda yang ditawarkan. Yang lebih penting: kemasan.

Sebuah parodi yang tak disengaja naik pentas: politik jadi pekan raya. Tiap tauke kios akan berusaha mendapatkan pembeli sebanyak-banyaknya. Tapi ketegangan hanya terbatas di situ: tak akan ada yang menggugat wacana yang mendukung (dan didukung) pekan raya itu sendiri.

Jika dulu lahirnya partai politik adalah isyarat tentang apa yang berlubang dalam situasi di mana ia lahir, kini partai berdiri sebagai indikator sebaliknya: terbukanya peluang untuk investasi—yang hanya bisa dilakukan mereka dengan kekayaan yang surplus.

Di sini memang politik tampak sebagai jalan yang aman. Partai tak akan jadi pembelot. Tapi saya kira sebetulnya sebuah fragmentasi diam-diam berlangsung. Sebab inilah politik tanpa ”imajinari sosial”, tanpa gelora hati, tanpa militansi. Inilah politik yang tak membentuk subyektivitas yang lahir karena terpanggil oleh yang universal.

Memang ada niat menjangkau pelanggan di mana saja, kapan saja. Tapi ini cuma universalitas sebagai façade. Dalam percakapan para juru kampanye partai, seperti di kantor perdagangan, orang bicara bukan jangkauan yang tanpa batas, melainkan tentang ”segmen pasar”.

Tentu, di pekan raya, para tauke memang bisa membuat usaha patungan. Tapi pada awal dan akhirnya yang berlaku adalah ke-masing-masing-an. Para pemilih akan datang bak konsumen. Tapi sejauh mana mereka yakin? Inilah zaman ketika kita tahu bahwa iklan mengandung dusta tapi kita toh membiarkan diri terpikat—zaman berkuasanya perangai ”akal yang sinis”, der Zynischen Vernunft, dalam diagnosis Peter Sloterdijk.

Mungkin kita tak akan punya lagi gelora hati dalam politik. Tapi kita tak bisa mengelakkan keniscayaan hadirnya partai di sebuah demokrasi. Haruskah kita jadi ronin di luar dinding Negara? Jangan-jangan. Bagaimanapun, sebuah masyarakat tak akan dapat mengelakkan dimensi politiknya—politik sebagai pertarungan: konsensus akan selalu berlubang, ketakadilan akan menimbulkan jerit.

Saya masih percaya, di dalam dan di luar partai, jerit itu tak akan jadi bisu. Akan selalu muncul mereka yang setia kepada gelora hati para penggugat, segumpal subyektivitas yang terbit dalam militansi, sujet fidèle dalam pengertian Alain Badiou.

Saya teringat pada senja 22 Juni 1996. Di satu ruang kantor Lembaga Bantuan Hukum di Jalan Diponegoro, Jakarta, di bawah lampu neon yang tak terang, sejumlah pemuda duduk. Kurus, lusuh, tapi intens. Di leher mereka terkalung bandana merah. Mereka memaklumkan berdirinya Partai Rakyat Demokratik, sebuah partai kiri—ketika suasana tambah represif di bawah ”Orde Baru” dan apa saja yang merah dan kiri dihabisi dan tiap partai alternatif akan dibabat.

Di ruang itu saya duduk bersama Pramoedya Ananta Toer memandangi mereka. Kami tahu, ke sana mata-mata penguasa mengintip, senjata disiapkan, penjara dicadangkan. Tapi anak-anak muda tetap saja dengan upacara sederhana yang bersejarah itu.

Bersejarah, apalagi bila dibandingkan dengan pesta kelahiran partai-partai hari ini.


24 Juli, 2008

Obama di Berlin

"Tempatnya di Siegessäule!" katanya pada saya. Dia lalu pergi sambil meninggalkan senyum.

Perempuan dengan senyum itu sukarelawan Americans Abroad, sebuah jaringan pendukung pencalonan Barack Obama untuk Presiden AS. Gadis berwajah Asia timur ini membagikan undangan di depan Reichstag, gedung parlemen Jerman, di Berlin. Undangan ukuran kecil, warnanya biru.

Kemarin, saya di Berlin menemani seorang teman yang pelesir di Eropah. Matahari bersinar agak terik. Orang antri memanjang di depan gedung Reichstag.

Siegessäule adalah monumen kemenangan Jerman dalam perang Eropah pada abad ke-19. Letaknya tak jauh dari gedung parlemen. Senator Barack Obama rencananya berbicara di depan publik Berlin hari ini.

Awalnya, Obama hendak bicara di depan Brandenburger Tor, tempat di mana John F. Kennedy dulu mempopulerkan kalimat “Ich bin ein Berliner”. Kanselir Jerman, Angela Merkel, kurang bersepakat dengan pilihan tempat itu, mengingat Obama barulah kandidat, belum presiden AS. Pendapat Merkel ini terkesan agak berlebihan, pasalnya siapa saja sesungguhnya bisa berbicara di tempat bersejarah itu. Pernah saya menyaksikan baik anggota neo-Nazi atau orang muslim Turki unjuk rasa di sana - dalam dua waktu berbeda.

Rasanya alasan Merkel politis. Merkel datang dari partai konservatif Jerman, Partai Uni Kristen Demokrat, CDU. Dari tindak-tanduk dan program politiknya, partai ini condong dekat dengan Partai Republik di AS. Sambutan lebih ramah justru diberikan walikota Berlin yang berasal dari partai sosial-demokrat.

Obama memilih Berlin dengan perhitungan. Dalam kunjungan Eropahnya, kota ini jadi tempat singgah pertama. Secara politis, Berlin adalah kota terpenting Eropah kini. Kunjungan Obama di Berlin sepertinya hendak mengirim tanda simbolik ke Amerika dan Eropah secara sekaligus. Saya sendiri menyukai Berlin karena sejarah kotanya. Sejarah yang dramatis dan naik-turun. Termasuk ketika AS memasok makanan, cokelat dan bahan bakar lewat udara untuk Berlin Barat yang diblokade Soviet, 1948-1949. Sejarah mengenalnya dengan istilah “jembatan udara” (Luftbrücke).

Obama bicara dengan tenang. Seperti Bung Karno, ia sosok karismatis. Ia punya talenta retorik mengagumkan. Tak bosan orang mendengarnya bicara lama tanpa manuskrip. Saya menyaksikannya di televisi. Menurut perkiraan media, ia bicara di depan sekitar 200 ribu orang.

Dalam pidatonya, Obama menyentuh peran Eropah dalam penyelesaian soal-soal internasional, lebih khusus terorisme. Hubungan Jerman dan AS sedikit regang memang, utamanya saat perang Irak. Kanselir Jerman kala itu, Gerhard Schröder, menolak mendukung AS dalam perang Irak. Tak ketinggalan, Obama menyelip dan mendramatisasi peristiwa jembatan udara di atas dalam pidato.

Setelah sihir

Barack Obama menyihir pendengarnya. Diluar konser musik rock atau pertandingan sepakbola Piala Dunia atau Piala Eropa, agaknya tak ada yang mampu menandingi kumpulan massa saat ia pidato di depan monumen Siegessäule. Setelah kena sihir berlalu, bagaimana kita melihat Obama?

Posisi kebijakan luar negeri Obama problematis. Di satu sisi, dia menghendaki penarikan pasukan AS dari Irak. Di sisi lain, ia mendukung penambahan pasukan di Afghanistan. Sebuah posisi politis jalan tengah yang pragmatis tetapi dapat dimaklumi dalam kenyataan politik mutakhir di AS. Akan halnya warga Jerman, apalagi Berlin, dengan kecenderungan anti-perang yang kental, keinginan yang menghendaki penarikan pasukan dari kedua tempat itu begitu terasa. Eropah menuntut pula AS agar tidak plintat-plintut dalam isu perubahan iklim.

Majalah The New Yorker, edisi 21 Juli, 2008, memuat tulisan panjang Ryan Lizza tentang karir politik Barack Obama. (Majalah ini tiba di kotak pos saya saban Senin; saya baru bisa membacanya setiap Sabtu. Obama pidato hari Kamis, 24 Juli.) Dalam hemat Lizza, anggapan bahwa Obama semacam sosok yang anti struktur mapan, adalah sebuah kekeliruan. “Every stage of his political career,” tulis Lizza tentang Obama, “has been marked by an eagerness to accomodate himself to existing institutions rather than tear them down or replace them.”

Harapan agar Obama bersikap lebih maju - bila jadi presiden AS - untuk tema-tema seperti Irak, senjata nuklir, perubahan iklim, atau layanan kesehatan menyeluruh, barangkali sepantasnya tetap ditempatkan dalam catatan Lizza tersebut. Kita masih perlu menunggu, seperti apa wujud retorika memikat di
Berlin itu dalam tindakan Obama.

AS tak bakal mampu membereskan konflik internasional seorang diri. Obama berharap, Eropah memainkan peran lebih besar. Berkait peran itu, saya jadi ingat Noam Chomsky. Ia profesor di Massachusetts Institute of Technology, MIT, dan salah satu kritikus paling tajam kebijakan luar negeri AS. Pada pagi yang dingin, 24 Maret, 2005, Chomsky memberi ceramah di universitas tempat saya kuliah, Universitas Leipzig.

Ruangan penuh sesak. (Beralasan, mengapa ia acapkali dikerubuni orang. Seperti Britney Spears di mata anak ABG, demikan Chomsky bagi sebagian cendekiawan.) Mengenakan sweater warna biru tua, Chomsky bicara tentang konflik Israel dan Palestina. Sesekali ia meneguk air minum. “Eropah punya pilihan untuk turut campur tangan … bagi tujuan keadilan dan perdamaian,” katanya. “Dan keadilan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin.”

Semoga itu pula alasan moral sesungguhnya, saat Obama menggandeng Eropah.

***

Tulisan ini muncul di situs IndonesianMuslim.com, 27 Juli, 2008.












Menangkap ikan di Danau Tondano, Sulawesi Utara (Foto: S Mumbunan).

Baca juga

Salah kaprah "Ekonomi pasar sosial"?

Elite muda Jakarta bikin ikrar. Mereka mengibarkan ekonomi pasar sosial dan sosial-demokrasi. Adakah yang keliru dengan konsep kaum muda itu?

Membongkar korupsi di utara Minahasa

Bupati Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, menuntut warganya sendiri milyaran Rupiah. Mengapa anak-anak muda setempat melawan Bupatinya? Apa kaitannya dengan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur?


Posting terbaru

.

Komentar