Di lantai dasar toko Lehmanns Buchhandlung, salah satu toko buku terbesar di kota Leipzig, sekitar 30 kursi diatur berjejer. Di depan, ditaruh meja pembicara dengan taplak hitam pekat. Belum satu pun orang menempati tempat duduk.
Gerd Gigerenzer datang. Ia berjas biru gelap dengan kemeja biru terang. 15 menit lagi acara dimulai. Ia mengambil air minum. Lalu bincang-bincang dengan dua orang – sepertinya para penyelenggara.
Gigerenzer adalah psikolog paling penting Jerman saat ini. Dia kepala Max Planck Institute for Human Development,
Heuristik adalah semacam aturan atau prinsip yang menuntun kita membuat keputusan. Termasuk dalam mencari alternatif atau keterangan, atau keduanya, untuk keputusan itu. Atau kapan berhenti mencari keterangan. Dari keputusan beli odol gigi sampai menikah atau tidak, berlaku heuristik ini.
Dalam edisi Jerman, buku itu diberi judul Bauchentscheidung. Terjemahan literer: "keputusan perut". Begitu cara orang Jerman menyebut keputusan berdasar intuisi. Selama ini kita kenal "keputusan kepala" yang menggunakan logika dan rasio, bukan heuristik sederhana dan ringkas. Di Swiss, buku Gigerenzer ini memenangkan buku terbaik kategori buku ekonomi. Di Jerman, buku terbaik kategori sains. Buku itu sendiri adalah penjelasan populer dari penelitiannya tentang perilaku manusia.
Dia memberi senyum ramah. Saya mendekatinya. Saya mengenalkan diri, dan membuka pembicaraan.
“Dua hal perlu kita pahami: pikiran dan lingkungan” ujarnya menjawab pertanyaan saya tentang pendapat Herbert Simon. Simon adalah computer scientist, psikolog dan penerima Nobel Ekonomi tahun 1978. Menurut Simon, rasionalitas manusia terbatas dalam mengambil keputusan. Simon adalah penganjur konsep bounded rationality. Ini berbeda dengan teori ekonomi standar yang menganggap manusia punya rasionalitas penuh.
Manusia punya keterbatasan pengetahuan atau sumberdaya, termasuk kemampuan melakukan kalkulasi. Dalam banyak kasus, tahu lebih banyak tidak selalu lebih baik. Manusia melakukan satisficing, merasa cukup, ketika tingkat aspirasinya terpenuhi. Kalau tidak percaya, tanyalah pada mereka yang menikah. Mereka tidak terus-menerus mencari pasangan terbaik. Bukan cuma hal itu sulit, sering pula berakhir kecewa.
Dus, pilihan yang kita buat bersifat adaptif. Dalam membuat keputusan, kita tidak selalu membuat kategori untung-rugi, memberinya bobot, menghitung probabilitas dan utilitas masing-masing, lalu mengambil pilihan dengan jumlah poin tertinggi.
Kita tidak selalu melakukan optimisasi ketika berhadapan dengan keterbatasan. Kerap kita melakukan apa yang disebut Gigerenzer sebagai heuristik cepat dan ringkas, fast and frugal heuristic. Bila Simon mengajukan konsep satisficing, Gigerenzer muncul dengan heuristik ini. Kedua konsep ini anggota keluarga rasionalitas terbatas.
Gigerenzer meneguk air minum di gelas yang dia pegang. Lalu melihat buku yang saya bawa. Matanya sedikit memincing, berusaha membaca judul, sebelum akhirnya dia tersenyum.
Saya membawa buku Simple Heuristics That Make Us Smart yang ditulisnya bersama kolega riset dia. Berisi penjelasan teknis dari buku yang diluncurkan malam ini. Buku itu saya beli dua tahun lalu. “Anda lihat sendiri, Simon senang dengan riset kami,” kata dia sambil tersenyum.
Saya mulai sampai pada kesimpulan, tampaknya dia gemar tersenyum. Simon memang memberi endorsement untuk buku ini, bersama Reinhard Selten, ekonom Jerman penerima Nobel Ekonomi untuk Teori Permainan. Gigerenzer memperluas konsep Simon sekaligus melakukan kritik. “Cuma kritik kecil,” katanya, lagi-lagi dengan senyum.
Toko buku ditutup. Tersisa tinggal hadirin peluncuran buku. Sebagian lampu toko dimatikan.
Gigerenzer memilih beberapa bagian buku untuk dibaca. Dia mengambil cerita tentang efektifitas heuristik-cepat-dan-ringkas itu. Ada kisah polisi di AS yang menggunakan intuisi untuk menangkap orang. Juga cerita peternak Jepang yang memakai intuisi untuk membedakan bayi-bayi ayam, apakah jantan atau betina. Bagaimana mereka melakukan itu? Baik polisi dan peternak itu menjawab “kami tidak tahu.“
Lalu kisah mahasiswa AS yang lebih sedikit prosentasenya memilih Detroit – dan bukannya Milwaukee, saat ditanya, kota mana berpenduduk lebih banyak. Sementara mahasiswa Jerman menjawab tepat dengan prosentase lebih tinggi, bahwa Detroit punya penduduk lebih banyak. Bukan karena mahasiswa Jerman tahu lebih banyak. Sebaliknya. Mereka justru tahu terlalu sedikit – banyak yang bahkan tidak pernah mendengar Milwaukee. Fenomena ini disebutnya recognition heuristic.
Tahu sedikit kerap lebih baik. Ignorance kadang bikin kita lebih pintar. Begitu pula bila kita cuma tahu setengah. Makanya, saran Gigerenzer, bila Anda berada dalam satu komisi yang berisi para ahli dan pakar, mintalah mereka untuk memberikan pendapat, usul atau solusi dalam jangka waktu yang singkat. Di sini, semakin singkat makin baik dalam membuat keputusan.
Kasusnya mirip andaikata Anda punya perusahaan, dan ingin merekrut karyawan. Melakukan banyak interview belum tentu lebih baik dibanding cuma beberapa kali wawancara.
Ia jelaskan pula, kapan heuristik ini tidak berfungsi. Misalnya ketika pilihannya tidak banyak. Atau rentang waktunya cuma pendek. “Kalau Anda merasa tidak yakin, buang informasi lain. Pakai intuisi,“ jelasnya.
Tentu, penggunaan rasio tetap berguna. “Bukan antara intuisi atau rasio, loh.“ Ia mengingatkan. Tetapi, “intusi dan rasio.“
Sekarang sesi tanya-jawab.
“Profesor, bagaimana Anda memilih makanan?“ tanya seorang dari belakang.
“Pertama, Anda tutup menunya“ kata dia, sambil menutup buku yang sebelumnya dia baca, seolah memegang menu makanan.
“Lalu tanya, ’Apa yang ada di [restoran] sini untuk dimakan?’“
“Jangan pernah tanya, ‘Apa saran Anda?’”.
Hadirin tertawa.
Jam 10 malam peluncuran buku itu selesai. Orang mulai meninggalkan toko buku. Saya menyempatkan diri, mendapatkan tanda tangannya di atas buku yang saya bawa.
“Ini bukan buku yang barusan Anda luncurkan, Profesor.“ Saya bergurau.
Dia tersenyum.
***