09 November, 2008

Jerman melawan energi nuklir

Politikus dari Partai Hijau Jerman (Die Gruene) ikut demonstrasi anti-nuklir. Foto oleh Deutsche Presse-Agentur.


Kereta api pengangkut sampah nuklir itu terhenti. Dicegat sekitar 15 ribu demonstran anti-nuklir. Kereta itu, namanya Castor, datang dari Perancis. Ia hendak menuju Gorleben, di negara bagian Niedersachsen, di utara Jerman. Gorleben adalah tempat buang sampah nuklir atau Atommülllager.

Ramai benar di Gorleben pada Sabtu, 8 November, 2008. Ada orang menari. Ada acara baca buku. Ada orang berdandan seperti badut. Macam-macam. Begitu tulis media massa. Anak-anak melukis pula wajah mereka dengan simbol anti-nuklir. Rasanya seperti ada festival saja.

Petani setempat dan serikat buruh sepertinya tak mau ketinggalan. Petani mengerahkan ratusan traktor untuk memblokir jalan. Pemimpin serikat buruh menyerukan anggotanya ikut serta dalam demonstrasi dan blokade.

Kemudian ada pula orang-orang yang menduduki rel kereta. Dekat perbatasan Perancis-Jerman, bahkan ada yang merantai dan mencor dirinya di rel.

Di kerumunan tampak politikus dari Partai Hijau, Die Gruene. Berselimut dingin November, beberapa anggota DPR partai ini ikut bersama warga duduk di atas rel kereta. Partai Sosial-Demokrat (SPD) dan Partai Kiri (Die Linke) juga memberi sokongan.

Kebijakan lingkungan hidup memang lekat dengan politik. Di negeri Jerman, hanya kelompok konservatif dan neoliberal, seperti Partai Kristen Demokrat (CDU) dan Partai Liberal (FDP), yang mendukung gagasan pembangkit tenaga nuklir. Di Indonesia, CDU diwakili yayasan Konrad Adenauer Stiftung (KAS), sementara FDP oleh Friedrich Naumann Stiftung (FNS).

Sudah tentu, di tengah-tengah demonstrasi dan blokade, hadir pula pak dan bu polisi. Ribuan jumlahnya, tulis juru warta. Mereka hadir lengkap dan berkekuatan penuh.

Suara helikopter meraung-raung di udara. Seperti dalam film saja.

***

1 komentar:

Roelus Hartawan mengatakan...

Jadi, wir bleiben!
Di Indonesia cuma isu Palestina aja yang bisa memancing partai mengusung demonstrasi. Partai-partai di Indonesia dengan platform yang kurang jelas dan ideologi yang samar memang bukan media yang asyik buat mengusung isu lingkungan. Seingat saya satu-satunya partai yang pernah mengusung isu lingkungan cuma PRD, dengan "red, purple and green campaign". Itu pun baru pada tataran wacana. Konsep green campaignnya masih kurang tajam. Sepertinya perlu dibangun partai baru di Indonesia yang progresif dan cerdas, dengan ideologi yang jelas.












Menangkap ikan di Danau Tondano, Sulawesi Utara (Foto: S Mumbunan).

Baca juga

Salah kaprah "Ekonomi pasar sosial"?

Elite muda Jakarta bikin ikrar. Mereka mengibarkan ekonomi pasar sosial dan sosial-demokrasi. Adakah yang keliru dengan konsep kaum muda itu?

Membongkar korupsi di utara Minahasa

Bupati Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, menuntut warganya sendiri milyaran Rupiah. Mengapa anak-anak muda setempat melawan Bupatinya? Apa kaitannya dengan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur?


Posting terbaru

.

Komentar