24 Februari, 2008

Mau ikut saya?: Tiket kereta dan ekonomi

Ketimpangan informasi membuat sumberdaya terbuang. Koordinasi dan preferensi sosial mungkin mengatasinya. Cerita tentang penumpang kereta di negeri Jerman.

Dua orang antri di depan kotak otomat karcis kereta. Saya dan seorang pemusik. Saya berdiri tepat di depan dia. Hendak menuju kota Wittenberg, mengisi akhir pekan, saya membeli tiket.

Wittenberg adalah kota tempat Martin Luther menulis 95 tesis yang terkenal, pemicu lahirnya Protestanisme. Tiket itu seharga 27 Euro. Bisa digunakan oleh 5 orang untuk sehari penuh.

Di tengah perjalanan nanti, saya rencananya akan menjemput beberapa teman yang telah menunggu di kota Halle. Kami ingin melihat kota tempat Luther berkarya. Saya berangkat dari kota Leipzig. Kira-kira, seperti Anda berangkat sendiri dari Jakarta, menjemput orang di Bandung, lantas bersama-sama menuju Semarang.

Dalam perjalanan dari Leipzig ke kota Halle (ingat Jakarta ke Bandung), saya berangkat seorang diri dengan tiket untuk 5 orang. Karena sendiri, kapasitas tiket tersebut tidak digunakan sepenuhnya. Para ekonom menyebut ini tidak efisien. Dan, bila menggunakan mekanisme pasar, kapasitas itu akan sia-sia. Setidaknya, untuk pasar mungil bernama pasar tiket kereta api.

Dalam teori standar yang dipelajari mahasiswa ekonomi, mereka yang antri membeli tiket dianggap memiliki informasi lengkap.

Asumsi tersebut tidak akurat. Dalam cerita ini, terdapat begitu banyak penumpang kereta yang tidak tahu-menahu kebutuhan penumpang lainnya dan (kapasitas) sumberdaya tiket yang mereka miliki. Sumberdaya itu terbuang percuma, tak terpakai.

Pemusik itu hendak pergi ke kota tempat teman-teman saya menunggu. Tujuan dia sama dengan tujuan antara saya. Saya tak kenal dia, dia juga tidak mengenal saya. Dia hendak membeli tiket untuk dirinya sendiri seharga sekitar 5 Euro.

Agar alokasi sumberdaya (tiket kereta) berlangsung efisien, saya menoleh ke belakang. Menawarkan dia untuk pergi bersama saya, tanpa perlu membayar atau membeli tiket. Ada dua efek. Pertama, dengan begitu dia tidak perlu "membuang" uang 5 Euro. Kedua, saya hanya “rugi” tiga orang, lebih sedikit dibanding empat orang bila tanpa dia.

Dengan menerima tawaran saya tersebut, kami berdua sama-sama untung, dibanding tanpa tawaran itu. Meminjam istilah ekonom, posisi kami berdua adalah pareto improving. Pareto adalah nama pemikir sosial asal Italia yang lahir di Perancis.

Tentu, saya akan lebih untung lagi, bila misalnya saya menawarkan dia untuk membayar pada saya, katakanlah, seharga 1 Euro. Saya untung 1 Euro, plus 1 orang tambahan penumpang. Dia untung 4 Euro, dibanding membayar harga tiket penuh.

Dia akan sangat senang hati hanya membayar 1/5 harga tiketnya. Pokoknya, selama tawaran saya lebih kecil dari uang yang harus dia keluarkan tanpa tawaran tersebut, yakni 5 Euro.

Sampai sebelum saya menoleh padanya (= mengetahui kebutuhan dia, menjelaskan tawaran saya, dan kami berdua bersepakat), pasar tidaklah efisien. Penyebabnya, kami berdua (atau, dalam kasus ini: salah satu dari kami) tidak tahu-menahu informasi sumberdaya dan keinginan yang dimiliki setiap orang.

Dan ketimpangan informasi semacam ini, biasa disebut asymmetric information, lazim ditemukan dalam mekanisme pasar. Dengan sedikit koordinasi, seperti yang dilakukan saya dan pemusik itu, persoalan akut dalam mekanisme pasar ini bisa diatasi.

Joseph Stiglitz, Michael Spence dan George Akerlof memperoleh Nobel Ekonomi tahun 2001 untuk sumbangan mereka atas persoalan-persoalan semacam ini.

Saya dan pemusik itu juga mendapat "hadiah nobel" kecil. Dia tak perlu merogoh saku untuk sampai kota tujuan. Dan saya mendapat teman bicara, ketika kereta melaju menembus pagi.


***

Catatan

Dalam cerita di atas, contoh Jakarta-Bandung-Semarang dipilih untuk membantu membayangkan arah kereta jalur Leipzig-Halle-Wittenberg, bukan jarak. Perbandingan jarak dalam kedua contoh ini tidak sama: Jakarta-Semarang jauh lebih panjang dibanding Leipzig-Wittenberg. Jarak Jakarta-Bandung misalnya, adalah sekitar tiga kali lebih panjang dibanding Leipzig-Halle. Terima kasih untuk F Thufail, sendirinya ikut ke Wittenberg, yang telah menunjukkan pokok ini.

Baca juga


6 komentar:

Anonim mengatakan...

Sonny,
Menarik sekali pengalamannya.

Selain masalah asymmetric information, saya membayangkan ada masalah lain yaitu kendala institusi.

Saya pikir kalau kejadiannya di Indonesia akan lain ceritanya. Transaksi yang Sonny gambarkan mungkin tidak mudah terjadi di Indonesia. Seperti kita ketahui tingkat keamanan di transportasi umum di Indonesia sangat rendah. Ini akan mempengaruhi kelancaran transaksi.

Saya membayangkan orang yang ditawari tiket murah atau gratis itu akan memiliki kecurigaan tersendiri, sebab perginya harus selalu bersama-sama karena tiket terdiri dari satu lembar (bukan?). Misalkan, katakanlah, dia akan beranggapan negatif kenapa ada orang tiba-tiba baik menawarkan tiket gratis. Jangan-jangan dia berniat jahat. Atau, Sonny pun tidak mudah menawarkan kepada seseorang sebab jangan-jangan orang yang ditawari adalah orang jahat. Tidak ada trust antar orang dan institusi hukum tidak menjamin kalau terjadi hal negatif akibat transaksi itu. Kedua hal ini akan menghambat transaksi.

Transaksi Sonny dengan pemusik terjadi di Jerman sebuah negara istitusi yang baik. Ada trust antara Sonny dengan pemusik, tidak ada ketakutan atau kecurigaan-kecurigaan. Selain itu, masalah keamanan dan jaminan hukum sangat baik sehingga orang akan bertransaksi dengan nyaman.

Anonim mengatakan...

Betul sekali tambahan informasi Dendi.

Saya ingin memberi sedikit keterangan mikro, yang tidak muncul dalam posting soal tiket itu:

- saya menjelaskan penawaran saya. Struktur insentif (harga) dari skenario ikut dengan saya, dibuat begitu jelas oleh saya saat menjelaskan padanya. Ini mengatasi persoalan informasi dia.

- ketika saya menawarkan, tiket itu saya tunjukkan kepada dia. Dia juga mengikuti proses beli tiket (dia berdiri di belakang saya). Pada tingkat tertentu, trust yang dia punya terbangun dari proses singkat ini.

- di tiket tersebut, yang saya tunjukkan pada dia, tertulis jelas tanggal, harga dan jenis tiket. Ini juga membantu membangun trust. (Unik juga, padahal saya adalah orang asing, Asia. Dan dia orang Jerman. Mungkin pula karena kami sama-sama muda, jadi "social proximity" ngga terlalu jauh. Lain lagi kalau yang saya menawarkan pada orang tua).

- dia memiliki akumulasi pengetahuan yang datang dari persinggungan dan pemahaman dia tentang sistem transportasi Jerman, soal tiket, soal harga, dst., bahkan soal trust-building (di Jerman, melanggar janji atau kepercayaan adalah perkara besar). Akumulasi pengetahuan ini - meminjam Kevin McCabe dan Vernon Smith - dia bawa kedalam game (baca: transaksi) kami. Ini membuat dia mau mengambil resiko ikut bersama saya. Keuntungan harga tiket, memang cuma salah satu faktor. Bukan satu-satunya faktor. Dalam banyak hal, aspek kelembagaan, seperti trust, tidak membuat orang bertransaksi, meski untung dari sisi harga.

Begitulah. Ilmu ekonomi, bila memerhatikan kenyataan (seperti detail kelembagaan), memberi kontribusi penting dalam memecahkan soal alokasi sumber daya, seperti tiket itu. Dendi barangkali akan sepakat dengan saya untuk hal ini :-)

Anonim mengatakan...

Sonny,
Saya sependapat sekali dengan argument yang dikemukakan diatas. Alokasi sumber daya memerlukan intitusi yang mendukung. Kasus yang Sonny ajukan adalah contoh yang sangat sederhana tapi kaya makna.

Dikaitkan dengan masalah di Indonesia, saya berpikir masalah trust atau institusi dalam arti luas sangat relevan menjawab permasalahan di Indoensia. Masalah di Indonesia bukan hanya masalah bagaimana memberikan insentif sehingga pelaku ekonomi bergerak. Insentif yang diberikan tidak ada gunanya jika institusi tidak mendukung.

Btw, model pemberian tiket gratis kepada seseorang yang Sonny lakukan mungkin bisa menjadi ide bagus untuk topik experimental economics nih…. untuk membuktikan bahwa faktor institusi atau trust secara spesifik ada (exist) dan berpengaruh terhadap pencapaian pareto optimum. Eksperimen dilakukan dengan membandingkan di negara yang memiliki faktor institusi yang kuat (Jerman) dengan negara yang memiliki faktor institusi yang lemah (Indonesia). Bisa jadi satu chapter disertasi nih…. ha...ha…ha….

Anonim mengatakan...

Soal trust, sudah banyak diteliti. Misalnya mengunakan Trust-Game (dengan Prospect Theory). Tesis Fukuyama, bahwa negara-negara tertentu punya trust lebih tinggi dibanding yang lain, juga sudah mulai dikoreksi.

Waktu baca komentar Dendi, saya juga lagi berpikir, bila Herbst 2008 nanti jadi pergi ke Brussel, sekalian saja saya mampir ke Antwerpen.

Toh, biaya tiket ke Brussel adalah sunk cost. (Plus, mudah-mudahan ada "ekonom" baik hati yang menawarkan tiket gratis -atau bayar setengah- dari Brussel...hihihi).

Topik kita udah bergeser nih :-)

Anonim mengatakan...

Nanti bisa diatur sistem insentif dan transaski apa untuk mencapai pareto optimum, ha..ha... tinggal kasih kabar saja kapan ke Brussels dan trus ke Antwerpen.

Anonim mengatakan...

wah...wah...wah...
Bung Sony...benar2 ekonom sejati...hahahhaa..pengalaman perjalanan naik WE saja di jelaskan berbasiskan theori2 ekonomi.Padahal kalo saya, yah naik tidur selesai deh...hahhahaha...

btw masih kenal?
saya osco.
kita waktu itu bertiga dari Berlin ke Hamburg naik WE juga. 1 nya lagi danang yah kalo ga salah yg dari ITB.












Menangkap ikan di Danau Tondano, Sulawesi Utara (Foto: S Mumbunan).

Baca juga

Salah kaprah "Ekonomi pasar sosial"?

Elite muda Jakarta bikin ikrar. Mereka mengibarkan ekonomi pasar sosial dan sosial-demokrasi. Adakah yang keliru dengan konsep kaum muda itu?

Membongkar korupsi di utara Minahasa

Bupati Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, menuntut warganya sendiri milyaran Rupiah. Mengapa anak-anak muda setempat melawan Bupatinya? Apa kaitannya dengan Kutai Kartanegara, di Kalimantan Timur?


Posting terbaru

.

Komentar